"khamsahamnida Jiyong, TOP, Daesung, Seungri"
Aku membungkuk berterima kasih.
"kalian ke kelas saja, kalian juga Minzy CL Bom, aku menyusul nanti"
Tanpa sepatah kata mereka meninggalkanku dan pergi ke kelas.
Aku masih di ruang UKS melihat dokter UKS yang sedang memeriksa Taeyang.
"Sandara?" dokter memanggilku.
"n, ne?"
"tidak usah takut, Taeyang hanya demam, tapi demamnya memang cukup tinggi. kau mau menjaga nya disini?"
"ne, aku akan menjaganya"
"sudah minta ijin dosen mu?"
"ne..." Aku berbohong.
"ne, kalau dia sudah bangun, beri dia minum obat ini ya"
"ne, khamsahamnida" Aku menerima obat itu.
Dokter pun keluar meninggalkan kami berdua.
Aku duduk di sebelah ranjang Taeyang.
Aku mengambil baskom dan kain yang ada di lemari mengisi nya dengan air.
Aku mengompres Taeyang, sesekali mengelus pipinya.
Aku melihat tas Taeyang yang terbuka, aku ingin menutupnya.
Aku melihat sebuah buku yang sepertinya bukan buku pelajaran.
Aku mengambilnya lalu membukanya.
Buku itu penuh dengan tulisan nama ku.
Sandara Sandara Saranghaeyo Sandara.
i love you Sandara.
Hampir seluruh isi buku itu berisi kalimat yang sama.
Aku tersentuh membaca buku itu.
"ya, stupid boy, segitu nya kah kamu menyukai ku?"
Aku memegang tangan Taeyang.
Aku merasa sesuatu yang berbeda dengan Taeyang.
"apa aku menyukai nya?" gumamku.
"ah aniii" aku menggelengkan kepalaku menampar pipi ku pelan.
Pelan-pelan aku merasakan tangan Taeyang yang ku genggam bergerak.
Aku melihat mata nya yang mulai terbuka pelan-pelan.
Matanya terbuka, ia melihatku.
"ya, kau sudah bangun?"
"ah aku sedang mimpi ya? di depan ku ada malaikat cantik" ia tersenyum.
"kau ini, ya aku sudah melihat isi buku mu" Aku menunjukkan buku yang ada ditanganku.
"ne? ah sepertinya aku ketahuan"
"ne..." Aku membuka obat yang diberikan dokter tadi.
"minum obatnya" Aku memberikannya air.
Taeyang meminumnya.
"ah ternyata kau ini fan gelapku ya?" Godaku.
"ne, aku fan mu Sandara unnie.."
"jangan sok imut kau Taeyang" Aku tertawa.
"ya.." Aku mengajak nya 'suit'.
Aku menang, aku batu, dia gunting. Hahaha.
"ya, kau kalah, sini aku jitak"
"aniii, jitakanmu sakit tau?"
"aniii, merem aja"
Taeyang memejamkan matanya, aku ingin tertawa melihat wajahnya yang sudah ketakutan.
Aku juga memejamkan mataku, aku mecium pipinya.
"ne, ayo kita pulang, kau harus istirahat" Aku membawa tas nya.
Taeyang masih terbengong memegang pipi kanannya yang ku cium tadi.
"ya! ayo cepat!" Aku tertawa.
"n,ne..."
Aku dan Taeyang berjalan ke rumahnya, aku mengantarnya.
"ya, Sandara..."
"ne?"
"khamsahamnida sudah merawatku.." Taeyang tersenyum, aku terpaku melihatnya.
"juga ciumannya, aku merasa sangat sehat sekarang" Taeyang mengangkat kedua tangannya lalu menjatuhkan tangannya di pundakku.
Aku tidak menolak rangkulan Taeyang.
Aku merasa nyaman saat Taeyang ada didekatku.
Taeyang melepas rangkulannya lalu menggandeng tanganku.
Anehnya, aku tidak kesal atau marah.
Aku senang dan tidak ingin melepas genggaman tangannya.
"ya, Sandara"
Aku menoleh ke arahnya.
"oh!" Aku terkejut saat Taeyang mencium dahiku.
Ciumannya tidak sebentar, ia mencium ku lama.
Ia tidak langsung melepas ciumannya, ia mencium dahiku lama sambil menggenggam tanganku.
Aku memejamkan mataku merasakan sesuatu yang aneh di dadaku.
Aku deg-degan tapi aku merasa nyaman saat itu.
"ya, kau mulai menyukai ku kan?" Taeyang melepas ciumannya, tapi tidak melepas tanganku.
Aku dan Taeyang kembali berjalan.
"ne, aku rasa aku mulai menyukaimu" aku berkata dalam hati.
"ya, kenapa tidak menjawab? kau menyukai ku kan?"
"ne, sedikit" Aku tertawa.
"ah, sedikit saja aku sudah senang" Taeyang mengambil tas nya dariku lalu membawakan tasku.
"ya, aku rasa aku sudah sehat, kita bolos yuk!"
"bolos? kemana?"
Taeyang berpikir sebentar lalu mengajakku berlari.
Ia masih menggandeng tanganku.
Aku dan Taeyang sampai di sebuah pantai yang sepertinya jarang diketahui orang.
Hanya ada beberapa orang yang ada disana.
Taeyang melepas sepatunya. Aku juga melepas sendalku.
Aku dan dia meletakkan tas kami di bawah payung besar di pantai itu.
Kami berdua bermain di tepi laut sana.
"ya!" Aku kaget saat Taeyang mencipratkan air laut kepadaku, aku basah.
"kau baru sakit jangan basah-basahan dulu!"
"aniii, aku tidak apa kalau ada kamu Sandara!" Taeyang tertawa menyipratkan air kepadaku lagi.
"ya!" Aku tertawa lalu membalasnya.
Taeyang mengejarku, aku berlari di pinggir laut bersamanya.
Jejak kaki kami tercetak di sepanjang pasir di pantai itu.
"aaa!!" Aku berteriak saat Taeyang berhasil menangkapku.
Taeyang memelukku dari belakang lalu kami berdua jatuh ke pantai.
"ya, lihat jadi basah kuyup begini!" Aku tertawa.
Taeyang hanya tertawa lalu memandang mataku.
Aku pun memandang matanya.
Taeyang mengelus pipiku lalu pelan-pelan mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Aku tidak bisa melawan, aku tidak tau kenapa aku tidak bisa dan memang tidak mau melawan.
Tinggal sedikit lagi aku dan Taeyang berciuman.
DUKKKK!
Sebuah bola menyambar kepala Taeyang, membuat ku tertawa dan memalingkan wajahku darinya.
Aku mengambil bola itu lalu mengembalikannya ke anak kecil yang sepertinya takut melihat Taeyang.
"ya! sudah jangan bermain air lagi, sini!"
"neeeeee" Taeyang menghampiriku.
Aku dan Taeyang membuat istana pasir bersama.
Kami benar-benar seperti sepasang kekasih saat itu.
Aku melihat dari jauh anak kecil yang tadi memperhatikanku.
"ya kamu! siniiii" Aku memanggil anak kecil itu.
"kamu sendiri?" Taeyang bertanya.
"aniii oppa" anak kecil berambut panjang itu menjawab dengan manis.
"oppa, unnie, apa kalian sepasang kekasih?"
Aku dan Taeyang bertatapan mata, awalnya bingung mau menjawab apa.
"ne, kami berpacaran" Taeyang menjawab.
Anak kecil itu mengeluarkan sebuah cincin couple dan memberikannya kepadaku.
"unnie ku kemarin menikah lalu memberikan ini padaku. Aku belum punya pacar jadi aku kasih ini ke unnie" anak kecil itu tersenyum.
"khamsahamnida anak manis" Taeyang mengelus kepala anak kecil itu.
Anak kecil itu berlari kembali ke mamanya, dari jauh melambaikan tangan kepada ku dan Taeyang.
Aku memandang cincin itu, cantik sekali.
Taeyang mengambil cincin itu dari tanganku.
Meraih jariku lalu memakaikannya di jari manisku.
"yaaa...." Aku tertawa malu.
"kau tidak mau memakaikan satu nya di jari ku?"
Aku mengambil cincin yang satu lagi lalu memakaikannya di jari manis Taeyang.
"ya, Sandara kapan ya kita bisa jadi sepasang kekasih?"
"bukannya sudah?" Aku tersenyum menunjukkan cincin di jari manisku.
Taeyang terlihat sangat terkejut melihatku dan perkataanku.
Ia bengong sebentar lalu tersenyum melihat cincin yang ada di jarinya.
"kalau begitu...." Taeyang merangkulku.
"mulai hari ini kau milikku, tidak ada yang boleh dekat-dekat denganmu"
Aku hanya tertawa mendengar Taeyang, aku melihat ke arahnya.
Ia juga sedang melihat ke arahku.
Taeyang menciumku di tepi pantai itu saat matahari mulai terbenam.
Ciumanku dan Taeyang berlangsung tidak lama.
Aku dan Taeyang bergandengan tangan lalu berjalan pulang ke rumah dengan baju yang basah kuyup.
Ditengah jalan aku melihat mantan kekasihku yang berdiri di depan rumahku.
"ah lagi-lagi dia" Taeyang berkata kesal.
Aku tidak takut lagi kali ini karna aku sudah memiliki Taeyang di hatiku.
Aku menghampirinya sambil menggandeng Taeyang.
"ya, sedang apa kau disini?" tanyaku sinis.
"Sandara, aku kesini mau minta maaf, aku tidak bisa melupakanmu Sandara!"
Aku menepis tangan mantan ku yang ingin menyentuhku.
"jangan sentuh" kata ku dingin dan sinis.
"bukan kah sudah kubilang jangan mengganggu Sandara lagi?" Taeyang mulai emosi.
"apa-apaan kau! Sandara dia bukan kekasih mu kan? Dia hanya mengaku-ngaku kan?"
Aku mulai kesal mendengarnya, aku menahan emosi ku lalu berkata dengan tegas.
"ne, dia pacarku, enyahlah" Aku menggandeng Taeyang masuk ke dalam rumahku.
Aku sengaja menubruk kasar pundak mantanku itu, aku sangat membencinya.
"sudah bisa mengakui ku?" Taeyang tersenyum.
"ne..." Aku membalas senyumannya.
"ya, dari mana kalian? bolos kelas?" Bom CL dan Minzy sudah menunggu di ruang tamu.
"baru pulang kencan" goda Taeyang.
"apa maksudnya?" CL kebingungan.
Aku dan Taeyang menunjukkan cincin yang ada di jari manis kami berdua.
"EEEEHHHHHH?!!!" Se isi rumah berteriak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar