5/01/2011

MY BRIDE PART 4

"jangan khawatir Bom..."

"aku akan melindungimu"

"TOP..... khamsahamnida..." Bom membalas pelukanku.

Aku bisa merasakan airmata Bom yang membasahi bajuku.
Bom melepaskan pelukanku melambai padaku lalu masuk kedalam kedai.

Aku tetap memperhatikan Bom sampai ia masuk ke dalam kedai baru aku melangkahkan kaki ku pulang ke apertemenku.


PARK BOM

Entah sejak kapan aku merasa sangat nyaman saat berada didekat TOP.
Aku merasa sangat aman saat TOP ada disebelahku.
Pelukan TOP yang hangat membuatku sangat tidak ingin berpisah dengannya.

"maaf lamaaa..." Aku kembali bekerja.

"ah, Bom, aku lihat tadi Taeyang kesini, kamu tidak apa kan?" tanya seorang sahabatku, Sandara.

"ah, aniiii.... aku dijaga oleh seorang  malaikat"

Aku tersenyum lalu kembali bekerja.

"malaikat? siapa? Bom!"

"malaikat ku, pangeran ku tepatnya Sandara..."


TOP

Aku mengambil HPku, menelpon Bom.
Aku khawatir, aku takut kalau-kalau Taeyang datang dan mengganggu Bom lagi.

Aku menelpon Bom, tapi tidak ada jawaban.
Aku mencoba menelponnya lagi, tetap tidak ada jawaban.

Pikiranku mulai mengarah ke pikiran negatif.

Apa Taeyang mengganggunya lagi?
Apa yang sedang Bom lakukan? Kemana dia?
Kenapa tidak mengangkat telponku?

Aku secepat kilat keluar dari apertemenku lalu pergi ke tempat Bom bekerja.

Bom, kamu dimana??? batinku khawatir.

Aku melihat Bom yang baru keluar dari kedai, lampu kedai sudah padam semua, gelap.
Aku melihat Bom sedang mengunci pintu kedai.

"Bom...!" Aku menghampiri Bom.

"ah, TOP.. annyeong.."

"Bom, kenapa tidak mengangkat telponku?"

"telpon? ah aku me-nyilent HPku, mianhae..."

Aku tidak melihat senyum pada wajah Bom malam itu.
Aku mencoba menebak-nebak apa yang terjadi pada Bom.

"Bom, apa yang terjadi?"

Sesaat Bom tidak menjawab pertanyaanku, ia seperti menyembunyikan sesuatu dariku.
Aku tetap berdiam-diaman dengan nya selama perjalanan.

Aku mengantarnya pulang.

"ah, khamsahamnida TOP, sudah megantarku" ketika aku dan Bom sampai di apertemennya.

"ah, iya, sama-sama."

Aku tidak langsung pulang saat itu, aku tetap berdiri di depan Bom, aku masih penasaran mengenai sesuatu yang ia sembunyikan dariku.

"Bom, ada apa sebenarnya?"

Bom masih tidak mau membuka mulutnya untuk bercerita kepadaku.
Aku menyerah, aku tidak mau memaksa nya bercerita, aku tidak mau membebaninya.

Aku mengelus kepala Bom, aku tersenyum lalu aku melangkahkan kakiku beranjak pulang.
Baru beberapa langkah aku berjalan dari pintu apertemen Bom.

"tadi adikku menelpon..."

Aku menghentikan langkah kakiku.

"adik ku bilang, ibu ku sakit.. memanggil nama ku terus menerus"

Aku membalikan badan melihat ekspesi Bom yang seperti menahan tangis.

"Taeyang datang kerumahku lalu mengatakan kejadian tadi siang, ayahnya hampir memutus kontrak kerjasama dengan perusahaan ayahku, kalau sampai itu terjadi... Keluargaku bisa bangkrut total"

Aku terkejut mendengar cerita Bom, emosi ku terpancing saat aku mendenagr nama lelaki yang menyakiti Bom tadi siang.

"Taeyang, tidak puaskah sudah menyakiti Bom?!" aku menggeram mengepalkan kedua tanganku.

"lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanyaku.

"ah, sepertinya aku tidak mempunyai pilihan lain lagi."

"ma... maksudmu?"

"aku... akan menikah dengan Taeyang"

Jantungku sesaat seperti tertusuk mata pisau yang tajam, sakit sekali saat mendengar Bom berkata seperti itu.
Aku tidak rela Bom harus menikah dengan lelaki itu.

"tidak! kamu tidak boleh menikah dengannya!" Aku mengeluarkan nada bicara tinggi.

Bom tampak terkejut melihat ekspresiku.

"aku menyukai mu Bom! aku tidak rela kalau aku harus melihatmu bersama yang lain, aku tidak rela!"

Aku menghampiri Bom lalu memeluk Bom erat-erat.

"T.. TOP jangan seperti ini.. aku akan segera menjadi calon istri Taeyang..."

Aku menatap mata Bom dalam-dalam, aku menggenggam kedua tangannya.

"kalau begitu.. apa kamu mencintainya?" tanyaku dengan suara pelan.

"ahahah... ne, aku mencintai nya TOP"

Aku bisa merasakan sakit yang Bom rasakan. Aku tau Bom sedang berbohong padaku.
Ekspresi Bom bisa menipuku tetapi matanya tidak bisa menipuku.

Aku melihat Bom yang memendam beban dan sakit di hatinya sendirian.
Aku kembali memeluk Bom.

"bohong... aku tau kamu tidak mencintainya.."

"aku yang akan menjagamu Bom, aku mencintaimu.."

"a... aku juga mencintaimu TOP.. tapi..."

Bom melepaskan pelukanku.
Aku melihat wajahnya yang sudah dibasahi airmata.

"mianhae.... aku tetap akan menikah dengan Taeyang..."

Bom meninggalkanku dan masuk ke apertemennya.
Aku mengejarnya tapi Bom sudah terlanjur mengunci pintu apertemennya.

"Bom! Bom! buka pintunya! kamu tidak boleh seperti ini!"

Aku menggedor-gedor pintu apertemen Bom.
Aku terduduk di depan pintu apertemen Bom, aku menangis.

Tidak rela aku melihat Bom bersama lelaki lain.
Apalagi lelaki yang sudah menyakiti dan membuat Bom menderita.

"Bom..." aku berteriak dalam hati, tak kuat aku menahan airmataku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar