5/01/2011

MY BRIDE PART 3

Bom... sudah mempunyai calon suami?

"a.. apa maksudmu?" Aku membalas dengan nada yang tidak kalah tinggi.

"Bom adalah calon istriku, lepaskan!" Pria itu menarik Bom dari pelukanku dengan kasar.

"lepaskan aku, aku sudah bilang aku tidak mencintaimu Taeyang!"

Mendengar suara tangisan Bom semakin keras, emosi ku sudah tidak dapat ku tahan lagi.
Aku meluncurkan sebuah tonjokan tepat di pipi pria itu.
Aku mendorong Bom ke samping, aku berkelahi dengan pria itu.

Pria itu membalas tonjokanku, singkat cerita aku berkelahi hebat dengan pria itu.
Aku baru menonjok nya lagi tetapi Bom menarik tanganku.

Aku melihat mata Bom yang merah karena terus-terusan menangis.
Aku mendorong pria itu lalu membawa Bom pergi dari tempat itu.

Aku berlari dengan Bom.
Kami berdua duduk di sebuah minimarket.
Duduk di kursi yang ada di depan mini market itu.

"mianhae TOP.........." Bom memegang pelan luka memar di pipiku.

"tidak apa..."

Bom yang merasa bersalah masuk ke dalam minimarket, membeli sebuah eskrim.
Bom menempelkan es krim itu di pipiku, di luka memarku.

"aw..!" Aku menahan rasa sakit pipiku.

"mianhae TOP.... tidak seharusnya kamu membelaku seperti itu"

Aku sebenarnya ingin menanyakan siapa pria itu, tapi melihat Bom yang masih sangat shock aku menunda niatku itu.
Aku membuka eskrim yang kugunakan untuk mengompres memarku.
Menempelkannya di bibir Bom.

"sudahlah lupakan saja, luka seperti ini tidak terasa sama sekali. ayo kita pergi makan siang." Kataku menghibur Bom.

"tapi......"

"sudah, ayo, jam istirahatmu keburu habis nanti" Aku menyodorkan eskrim itu padanya.

"ne.."

Bom berjalan disebelahku. Kami menuju ke sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari tempat kerjanya.
Perjalanan kami terhenti disebuah restoran Jepang.

"ah, kamu suka sushi ternyata?"

"ne, aku sangat suka sushi.... ayo" Bom menarik tanganku.

Aku dan Bom duduk disebuah tempat duduk yang menghadap jalan luar.
Lalu lalang pejalan kaki diluar restoran membuatku bengong sesaat.

Aku masih memikirkan kata-kata pria tadi, mengaku sebagai calon suami Bom.

"Bom... boleh aku bertanya sesuatu?"

"hm? mengenai kejadian tadikah?"

Aku hanya menatap mata Bom.
Bom memesan makanan untuk kami berdua sesaat lalu menatap mataku kembali.

"pria itu... Taeyang, dia memang calon suamiku"

"ca.... calon suami?"

"ne... orang tua ku menjodohkanku dengannya. aku tidak mencintai nya sama sekali. tetapi orang tua ku memaksaku menikah dengannya karena perusahaan mereka ingin bekerja sama..."

Aku terpaku mendengar cerita Bom itu. Aku tidak menjawab. Aku hanya mendengarkannya.

"maka itu aku bekerja di kedai itu. Aku keluar dari rumah, aku mencari uang untuk membiayai hidupku sendiri, kalau aku tetap berada di rumah, aku pasti sudah menikah dengan Taeyang sekarang ini..."

Aku tersanjung dengan cerita Bom saat itu. Ceritanya membuatku tau betapa tegarnya ia menjalani hidup sebagai seorang wanita.

Aku baru akan menjawab Bom, aku dihalangi dengan datangnya pesanan makanan kami.

"ah, sudah tidak usah dibahas, ayo, kita  makan!" Bom tersenyum.

Aku bisa melihat perasaan sedih yang ia tutupi dengan senyum palsunya itu.
Aku tidak memaksa Bom untuk berbicara lebih lagi. Aku makan makananku dengan diam.

"ya... Bom, hari ini... kamu pulang bekerja jam berapa?"

"jam 8.. kenapa?" Bom mengunyah makanannya.

"aku jemput ya? aku akan mengantarmu pulang. aku takut Taeyang akan mengganggumu lagi"

Bom terlihat tersanjung dengan kata-kata ku.

"kalau tidak merepotkan mu..."

Aku kembali memakan makananku.
Setelah makan, aku mengantarkan Bom kembali ke tempat  kerjanya.
Aku melihat Bom yang akan memasuki kedai itu.

Aku reflek menarik tangannya, Bom berbalik menghadapku.

"Bom...."

"ne?"

"kamu jangan takut..."

"takut? kenapa?" Bom kebingungan.

"aku akan melindungimu dari Taeyang...."

"aku janji" tambahku.

Aku menarik Bom lalu memeluk Bom, menenggelamkan Bom didalam pelukanku.

"T.... TOP...?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar