5/07/2011

COUNT DOWN PART 5

"SOL dikenal sebagai agen pemberontak yang profesional di Inggris. Baru beberapa hari lalu dia bertemu degan 2NE1 untuk melakukan penyerangan kemari mengambil permata yang kita simpan di sini.
Mungkin kita harus bersiap-siap dengan serangan mereka"

"ah begitukah? Sudah beritahu D-Lite dan GD?"

"aniii, mereka sedang menjalani misi sekarang"

"ah, khamsahamnida info nya TOP, tolong beritahu GD dan D-Lite secepat mungkin. Jangan sampai, SOL dan 2NE1 menyerang mereka duluan"

"ne, aku mengerti. Tapi, ada apa tiba-tiba kamu menanyakan SOL?"

"Sepertinya SOL kemarin datang ke rumah IU, aku melihat surat yang ditulis SOL yang mengatakan akan mengambil diamond itu lalu menghancurkan kita."

"Benarkah?"

"Ne... Aku juga melihat cipratan darah di lantai yang sudah kering, sepertinya IU menembak SOL, tapi tidak dalam tembakannya"

"Lalu ada apa lagi disana?"

"Aku melihat foto seorang pria dengan IU yang di tutup, mungkin dia ini SOL. Masa lalu IU"

"Ah, aku sudah mencatat semuanya, khamsahamnida info nya VI"

"Ne... Ingat beritahu GD dan D-Lite, kita tidak tau kapan mereka akan menyerang kita"

"Ne, aku tau"

Aku mematikan telpon ku lalu melihat ke arah IU.

IU


"Ah, kepalaku pusing sekali..." Aku memegang kepalaku yang rasanya sakit sekali.

Aku melihat keadaan rumahku yang masih berantakan karena kejadian semalam.
Ah, semakin pusing kepalaku.

Aku mengambil botol air mineral yang dingin di kulkasku.
Aku meminumnya lalu merapikan pecahan kaca botol wine ku kemarin.

"Mau bermain?"

"Hm, SOL, tidak puas kemarin sudah menggangguku?"

Aku berdiri lalu mengambil botol wine di lemari ku.
Membuka nya lalu  meminumnya.

"Ah, aku ingat sekali foto ini, sudah lama sekali ya? Hahaha" SOL mengambil fotoku.

"Jangan sentuh foto ku"

"Kenapa? Bukannya ini fotoku juga? Ah, kau masih cantik disini berbeda dengan yang sekarang"

"Hm" Aku melontarkan senyuman benci kepadanya.

"Kau yang sekarang terlalu kurus dan terlihat sangat lelah"

Aku tidak menajawab, aku meminum wine yang ada di tanganku.
Meneguk nya sampai habis.

"Apa seorang agen FBI seperti ini? Minum-minum sampai mabok IU?"

"Ne.. Tidak suka?"

"Apa kau mau minum-minum saat aku datang mengambil permata ku?"

"Maksudmu permata ku? Ha-ha"

"Aniii, permata-ku, milik-ku"

"Dalam mimpi SOL. Kau pikir aku lemah tidak bisa melindungi permata itu?"

"Aku tau kau tidak lemah, tapi yang aku pikirkan. Apa kau tega menyakiti aku? Seorang yang berharga di masa lalu mu?"

SOL berjalan semakin maju ke arahku.
Aku hanya bisa berjalan mundur menghindarinya sambil mencari-cari senjataku.

"Sial! Tertinggal di tas!" batinku.

"Kemana senjata mu?"

Aku hanya terdiam sambil tetap berjalan mundur.

"Game  over, aku yang akan bermain dengan nyawa mu hari ini"

SOL mengarahkan senjata nya ke arahku.
Ia mengambil ancang-ancang akan menembakku.

DORRR!

Ku pikir SOL sudah menembakku, aku membuka mataku yang terpejam.

"V.. VI?"

Aku melihat VI  yang menembak senjata SOL sehingga senjata nya jatuh ke lantai.



"atau mungkin aku yang bermain dengan nyawa mu SOL?"

Aku mengambil senjata SOL yang di lantai lalu mengarahkannya kepada SOL.
Sekarang SOL terjepit dengan kami berdua.

"ah, VI. Senang bertemu denganmu"

"Senang bertemu dengan mu juga SOL.... sepatu? Ha-ha-ha"

"Errr, SOL! Agen bodoh"

"ah, SOL. Ya, ya terserah apa katamu hahaha" VI tertawa.

"Oke, sekarang kalian mengepungku, tembak aku. Ayo"

"Aku tidak akan  menembak mu sampai perang yang sebenarnya dimulai SOL"

Aku membuang senjata yang kupegang jauh-jauh.

"Ne.. Aku ingin melihat aksi mu dengan permata itu" VI menatap SOL dingin.

"Fine, kita lihat siapa yang menang nanti, annyeong VIU"

SOL keluar dari rumahku.
Meninggalkanku dengan VI.

"ya, khamsahamnida sudah menolongku lagi"

"Ne.. Apa SOL itu masa lalu mu?"

"Hanya teman" Jawabku singkat.

"Benarkah?"

Aku terdiam sesaat.
Aku ingin menceritakan yang sebenarnya tapi berat untuk membuka mulutku.

"Ceritalah, aku mendengarkanmu" VI melepas jas nya.

"SOL... Dia dulu teman baikku, sahabatku. Aku menyukainya. Kami sering berpergian bersama.
Sampai suatu saat SOL tertangkap basah mencuri, ia kabur ke rumahku.
Polisi datang ke rumahku, tembakan melayang dimana-mana. SOL yang terjepit menyandera adikku lalu menembaknya"

"Adikmu? Lalu bagaimana?"

"Adikku tewas.. Semenjak itu SOL menghilang, 1 tahun terakhir ini aku mendengar namanya sebagai pemberontak di Inggris. Oleh karena itu, aku berniat membalas kematian adikku"

Air mataku mulai mengalir keluar saat aku bercerita kepada VI.
Aku berusaha menahan sebisa mungkin tapi akhirnya airmataku tetap keluar membasahi wajahku.

"Ne, jangan menangis. Adikmu pasti bangga mempunyai kakak yang kuat sepertimu"

VI memelukku membiarkan ku menangis di pelukannya.

"khamsahamnida VI"

"Ne..." VI memelukku erat.

Tiba-tiba suara HP VI berdering keras.
VI melepas pelukannya lalu mengangkat telpon itu. Wajah nya terlihat shock.

"siapa?" Tanyaku.

"TOP. Katanya 2NE1 dan SOL mengirim pesan akan menyerang kita besok"

"Ne?!"

"Ayo kita kesana sekarang, GD dan yang lain sudah menunggu"

"N.. Ne" Aku mengambil senjataku lalu berangkat bersama dengan VI.

VI


"ya! Bagaimana? Ada pesan baru apa lagi??"

"Belum ada, SOL 2NE1 baru mengatakan akan menyerang kita besok. Permainan nyawa katanya"

"Aku yang akan menghadapi SOL" IU mengepalkan tangannya, matanya penuh dengan rasa benci.

"Ne, kalau gitu IU menjaga SOL, D-Lite menjaga Minzy Sandara, aku dan GD akan menjaga CL dan Bom. Sekaligus mengamankan permata itu"

TOP mengatur strategi mengamankan permata itu.
Aku melihat IU yang masih mengepalkan tangannya dengan amarah yang sangat besar.
Mata nya penuh dengan dendam dan rasa benci yang dalam.

Terlihat sekali dia sudah memendam rasa sakit karena kehilangan adiknya bertahun-tahun.

"Lalu VI..."

"Aku akan bersama IU, melindungi IU maksudku" Omonganku memotong pembicaraan TOP.

"Baik kalau begitu"

Aku memegang tangan IU yang masih dikepal emosi.
IU melihat ku, lurus menatap tepat di kedua mataku.
Aku membalas tatapan mata IU seakan-akan kami berkomunikasi melalui tatapan mata kami.

"Aku akan melindungimu..." Ucapku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar