5/02/2011

MY BRIDE PART 6

Aku tidak percaya aku benar-benar berada di gereja tempat Park Bom, wanita yang kucintai akan segera menikah.
Aku tidak tau apa yang membuatku melangkahkan kakiku kedalam.

Aku berdiri diluar gereja saat aku melihat Bom berjalan masuk kedalam.
Sepertinya ia tidak melihatku.

Pernikahan baru akan berlangsung satu jam lagi.
Saat ini, para tamu sedang bersalam-salaman dengan Taeyang dan Bom.

Aku berjalan masuk ke dalam bermaksud menyelamati Bom.
Aku melihat Bom dengan gaun yang indah, cantik sekali.

Tapi aku tidak bisa menemukan senyum kebahagiaan yang seharusnya dimiliki pengantin saat hari pernikahannya berlangsung.

Melihatku berjalan dari jauh, senyum Bom berangsur-angsur hilang.

"Bom... selamat atas pernikahanmu" Aku mengulurkan tanganku kepada Bom.

Tapi Bom tidak membalas uluran tanganku.
Sebaliknya, Taeyang calon suami Bom itu membalas uluran tanganku.

"khamsahamnida. kamu turut berbahagia atas pernikahan kami kan?"

Aku bisa merasakan dendam yang masih ada pada Taeyang karena perkelahian kami belum lama ini.

"ne... aku berbahagia atas pernikahan kalian, selamat..."

Aku menarik tanganku lalu keluar dari gedung gereja itu.
Aku berjalan mengitari sekeliling gereja itu.

Banyak foto-foto pre-wedding yang dipajang disekitar gereja.
Aku mengamati wajah Bom pada tiap foto.

Cantik.. Tapi tidak dengan senyum yang tulus.




TENG.. TENG.. TENG..

Lonceng yang ada diatas gereja itu berdentang keras dan nyaring.
Tanda pernikahan akan segera dimulai.

Para tamu berbondong-bondong masuk ke dalam ruang gereja itu.
Aku masuk setelah semua tamu sudah berada di dalam ruangan itu.

Aku mengasingkan diriku dari kerumunan para tamu.
Para tamu mengambil posisi di depan, ingin melihat pengantin dari dekat.

Aku tidak.

Aku mengambil tempat di belakang, aku bisa melihat Bom sangat jelas dari sini.

Kedua pengantin sudah berdiri pada posisi masing-masing.
Pendeta yang akan menjadi saksi pernikahan mereka pun sudah berdiri diantara pengantin.

"hari ini... kita semua ada disini untuk menjadi saksi pernikahan antara Taeyang dan Park Bom..."

Pendeta itu mulai mengucapkan janji-janji suci.
Tiba giliran Bom, jantungku berdetak sangat kencang.

"Park Bom.. apa kamu bersedia menjadi pendamping hidup Taeyang dalam suka maupun duka? dalam keadaan sehat dan sakit?"

Aku deg-degan, menanti jawaban Bom.
Berharap Bom mengubah pikirannya dan tidak menikah dengan Taeyang.

"n... ne... saya bersedia..."

Aku sangat kecewa saat mendengar jawaban Bom.
Hatiku hancur dan sakit.

Kotak cincin sudah dibuka.
Taeyang sudah memakaikan cincin pernikahan itu di jari manis Bom.

Giliran Bom memakaikan cincin itu.
Bom mulai mengambil cincin itu, perasaan ku terasa campur aduk tidak karuan.

Sakit, kecewa, sedih, takut, panik, marah, semua menajdi satu.

drttt... drttttt...

Vibrate HPku bergetar kencang, aku mengambil HPku.
Ah, SMS dari Jiyong..

hyung!


bagaimana? masih patah hati kah?
ah, hanya ingin berbagi pesan.


aku tadi mendengar radio lalu mendapat kutipan bagus.


"jangan malu untuk berbuat nekat untuk menggapai cinta yang kamu kejar, jangan menyerah di tengah jalan, terus kejar dan lihat ending yang kamu dapat nanti"


Jiyong.


Entah kenapa, aku merasa kalau SMS Jiyong itu sangat cocok dengan keadaanku.
Saat aku menutup HPku lalu melihat ke arah Bom, Bom sudah memegang cincin pernikahan itu,
hampir memakaikannya ke tangan Taeyang.

"STOP!"

Aku reflek berteriak lalu berlari ke depan.
Aku menjadi pusat perhatian semua tamu di gereja itu.

Aku menarik tangan Bom lalu memeluk nya.

"yaa!! berani sekali kamu mengacaukan pernikahanku?!" Taeyang membentakku.

"aku tidak setuju dengan pernikahan ini! orang yang Bom cintai bukan kamu tapi aku!"

"ya! TOP apa yang kamu lakukan?" Bom terlihat sangat panik.

Tamu dan keluarga kedua pengantin sudah terlihat ricuh melihat perbuatanku yang nekat ini.

"Bom, sampai kapan kamu mau membohongi perasaan mu sendiri?"
"aku mencintaimu Bom! Saranghaeyo!"

Aku tidak memberi Bom waktu untuk menjawab pernyataanku.
Aku mencium Bom di depan banyak orang.

Saat aku lepas ciumanku, aku melihat Bom yang bahagia.
Matanya benar-benar memancarkan kebahagiaan dan haru kali ini.

Bom melepas pelukanku lalu melepas cincin yang ada dijarinya.

"mianhae semuanya! aku tidak bisa menikah dengan Taeyang. mianhae aku sudah membuat kekacauan seperti ini. laki-laki yang ku cintai bukan Taeyang"

Bom menarik tanganku.

"tapi yang kucintai adalah TOP. mianhae."

Aku berlari keluar dengan Bom, Bom masih memakai gaunnya yang panjang itu.
Sekilas aku seperti membawa kabur pengantin orang, tapi aku tidak salah kan?

Aku hanya mengejar cintaku hahaha.

"ya, Bom, sudah tidak takut kedua orang tuamu marah?"

"aniii, aku akan menjelaskan pada mereka"

"ahh begitukah? sepertinya aku membuat onar membawa lari pengantin orang ya?" Aku tertawa.

"ne? jadi kamu menyesal membawaku pergi?" Bom mengajakku bercanda.

"aniiii, sebenarnya aku mau membawa mu kabur dari awal, tapi aku mencari waktu yang pas saja, supaya lebih heboh hahaha"

Bom hanya tertawa mendengar perkataanku.

"ya, Bom...."

"hm?" Bom menoleh kepadaku.
Aku melihat Bom yang masih memakai gaun pengantin, cantik sekali.

Aku merangkul Bom sambil memandang matahari yang mulai terbenam.
Aku melihat wajah Bom yang terkena sinar oranye dari matahari.

Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, lalu berbisik.....

"saranghaeyo Bom"
"will you be my bride?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar