5/03/2011

STUPID LIAR PART 5

Taeyang menarik tangan ku keluar dari tempat makan itu.
Aku bisa mendengar mantan ku yang masih memanggil ku dari tempat makan itu.

Taeyang berhenti menarikku saat aku dan dia sampai disebuah persimpangan jalan.

"khawatir?"

"ne?" jawabku bingung.

"khawatir aku akan memukulnya?"

"anii... Hanya saja, tidak sopan berkelahi de tempat makan"

"kalau begitu di tempat lain aku boleh memukulnya?" Taeyang tersenyum padaku.

"anii... itu juga tidak boleh"

"kenapa? mengkhawatirkannya?"

"anii...." Aku duduk berjongkok dipinggir jalan.

"ah, atau kau mengkhawatirkanku?" Taeyang berjongkok tepat didepanku. Dekat sekali.

Aku tersenyum lalu menyentil dahinya pelan.

"aniii.. siapa bilang aku khawatir padamu?"

"ne? begitukah?" Taeyang berdiri lalu berjalan ke tengah jalan yang ramai di lalui mobil.

"ya! apa kau  sudah gila?! kembali kesini!" Aku berteriak panik.

"aniii! katakan kalau kau mengkhawatirkan ku baru aku kembali!" Teriaknya sambil tertawa.

"kau gila ya?!"

"ne! aku gila! aku gila karena mu Sandara!"

Aku terdiam mendengar perkataan nya. Membuat jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya.

"ne! aku mengkhawatirkanmu! cepat kembali!"

Taeyang tersenyum lalu berlali kembali kepadaku.

"mengkhawatirkan ku kan?" godanya mencubit pipiku.

"terserah apa katamu, jangan pernah melakukan hal gila seperti itu lagi, mengerti?"

Aku berbalik dan berjalan.
Masih kesal dengan aksi gila yang dilakukan Taeyang tadi.

Aku sesaat berpikir, bingung dengan diriku sendiri.
Untuk apa aku mengkhawatirkannya?

Kenapa aku panik saat dia hampir ditabrak mobil tadi?
Kenapa jantungku berdetak cepat saat dia mengatakan tergila-gila denganku?

Aku membalikan badanku lalu melihat Taeyang yang jalan dibelakangku.
Aku memperhatikannya dengan tatapan yang sedikit kosong.

"ya, kenapa melihatku seperti itu?"

"ah, aniii.."

"sepertinya tadi ada yang mengkhawatirkanku ya?"

Aku mencibir kepada Taeyang lalu berjalan kembali.
Aku melihat di seberang jalan ada sebuah photobox.

Aku teringat dengan masa laluku, aku pernah berfoto dengan mantanku di photobox itu.

"ya, kenapa melihat photobox itu? teringat masa lalu kah?"

"aniiii, jangan menyebut masa lalu terus menerus"

"lalu? kenapa melihat photobox itu?"

Aku belum sempat menjawab Taeyang sudah menyerobotku.

"ah, mau foto?"

Taeyang menarik ku menyebrangi jalan.
Saat menyebrangi jalan ia menggenggam tanganku lalu mendekatku kepadanya.
Sepertinya ia ingin melindungiku.

Sampai di depan photobox aku tidak mau masuk kedalam.

"aniii, aku tidak ingin foto. Aku sedang tidak ada mood hari ini, wajahku sedang seperti nenek sihir" Aku mengeluarkan alasanku.

"aniii. kamu cantik seperti biasanya"

Taeyang menarikku masuk ke dalam photobox itu.
Aku dan Taeyang mengambil beberapa foto lalu keluar.

Aku tertawa saat melihat ekspresi Taeyang yang konyol di foto itu.

"ya, apa-apaan ini? wajahmu hahaha"

"lucu bukan?" Taeyang menggodaku.

"ne, ne, terserah apa katamu" Aku menyimpannya didalam dompetku.

"jadi kita mau makan apa sekarang?"

"apa saja"

Aku dan Taeyang akhirnya makan di sebuah tempat makan yang dekat dengan rumahku.
Selesai makan, Taeyang mengantarku pulang.

Aneh, begitu sampai dirumahku, hujan deras turun.
Taeyang tidak bisa kembali ke rumahnya, aku memintanya berteduh sampai hujan mereda.

Sampai tengah malam hujan tidak reda malah bertambah deras.

"oh God, sengaja kah?" batinku.

"ya, sepertinya kau tidak bisa pulang malam ini" Aku melihat keluar lewat jendela.

"ne.. HPku tidak ada baterai pula, Sandara, pinjami aku HPmu"

Aku memberikan HPku kepadanya.




TAEYANG


Aku terpaksa bermalam di rumah Sandara karena hujan yang sangat deras diluar.
Sebenarnya aku anggap hujan itu keberuntunganku.

Aku bisa melihat Sandara lebih dari seharian.

Aku meminjam HP Sandara untuk menelpon Jiyong.

Aku melihat foto ku yang wakti itu kujadikan wallpaper di HP Sandara.
Kupikir Sandara sudah menggantinya.

Ternyata dia masih memakai fotoku sebagai wallpapernya.

"Sandara.."

"ne?"

"kamu menyukai foto ku ya? sampai tidak diganti?"

"ne, aku menyukai bunga yang kau pegang bukan kamu" Sandara tertawa.

Aku pun menelpon Jiyong.

"ya, Jiyong"

"ya, Taeyang dimana kau?"

"aku dirumah Sandara, aku akan bermalam disini sepertinya, hujan nya sangat deras aku tidak bisa pulang"

"ahh, kesempatan dalam kesempitan hah?" Jiyong tertawa.

"ya!" aku tertawa lalu mematikan telponnya.

Sandara yang kembali dari dapur membawakan aku minuman botol.
Tapi tiba-tiba...

KLAPPP

Semua lampu di rumah itu mati.
Aku tidak bisa melihat apa-apa, gelap sekali.

Aku bisa mendengar CL, Minzy dan Bom yang panik di lantai atas.
Sandara pun panik.

"ya! Taeyag dimana kau? Aku tidak bisa melihat apa-apa"

"aku disini" Aku berjalan pelan-pelan berusaha mencari Sandara.

Sandara pun dengan panik berjalan mencariku.
Tapi sepertinya ia tersandung sesuatu.
Aku mendengar suara nya saat ia mau jatuh, aku berlari mengikuti suara itu.

Aku mengira-ngira dimana Sandara berada.
Jackpot! Aku berhasil menahan Sandara yang hampir jatuh.

Sandara jatuh di atas tubuhku, aku terjatuh ke lantai.

Aku merasakan Sandara yang masih panik.
Aku memeluknya mencoba menenangkannya.

"kau takut gelap ya?"

"n... ne" Sandara memeluk ku erat, dia sangat ketakutan di kegelapan.

Saat aku dan Sandara berpelukan, lampu seisi rumah tiba-tiba menyala.
Aku melihat Minzy, CL, dan Bom turun dari tangga membawa senter.

Mereka terkejut melihatku dan Sandara sedang berpelukan di lantai.

"y.. ya! Taeyang oppa, Sandara unnie! kalian sedang apa? berpelukan?!"

Aku mendengar Minzy yang berbicara tergagap-gagap.

Aku dan Sandara bertatap-tatapan, kami berdua panik.

"ah God, alasan apa yang harus ku berikan sekarang?" Aku memukul kepalaku pelan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar