Hari sudah semakin gelap, lagit sudah berubah menjadi hitam kelam.
Aku masih tetap dalam posisi ku yang terduduk lemas di depan pintu apertemen Bom.
Aku sudah mengetuk-ngetukpintu Bom tapi tidak dibukanya.
Aku mencoba menelpon HPnya tidak juga dijawab.
Aku melihat sebuah tumpukan kapur di pojok lorong yang ku duduki.
Seperti habis dimainkan oleh anak kecil.
Aku mengambil kapur itu.
"Bom, apa kamu masih tidak mau membuka pintu untukku?"
Aku mengetuk pintu apertemen Bom lagi.
Bom masih tidak mau membuka pintu nya untukku.
Aku menghela nafas, kecewa...
Aku menulis dengan kapur yang kupegang itu di koridor tepat didepan pintu apertemen Bom.
Lalu aku berjalan pulang....
PARK BOM
Mianhae TOP....
Sebenarnya yang kucintai adalah kamu, tapi aku tidak bisa melihat keluargaku menderita.
Terutama ibu ku, mianhae TOP..
Aku merasa sangat bersalah pada TOP, aku tidak bisa menahan airmataku.
Apa yang harus ku lakukan sekarang?
Sekilas terlewat dipikiranku momen dimana aku pertama kali bertemuk dengannya.
Aku yang melayaninya saat ia memesan makanan di kedai waktu itu.
Air mataku kembali bercucuran membasahi pipiku.
Tanpa sadar aku berlari ke arah depan lalu membuka pintu apertemenku dengan cepat.
"TOP!"
Aku mencari sosok TOP tapi aku tidak bisa menemukannya.
"Apa TOP sudah pergi? Apa aku sendirian sekarang?"
Batinku sedih, kecewa, takut, panik, semua menjadi satu.
Pencarianku terhenti saat aku melihat sebuah tulisan di koridor depanku.
Tepat di depan mataku.
SARANGHAEYO, BOM..
AKU AKAN MENUNGGUMU!
TOP
Puncak dari kesedihanku terpecah saat aku melihat tulisan itu.
Aku benar-benar menangis.
"TOP, mianhae...."
TOP
"hyung! ayo latihan! semangat semangat!"
"aniii Seungri, aku sedang tidak ada mood..." Aku duduk berselonjor di sofa.
"ah, hyung ayolahhhhhh" Seungri mencoba menarik tanganku.
"ah, sudah sudah, kita latihan berdua dulu. jangan ganggu hyung" Daesung menarik Seungri.
Mereka berdua berlatih dengan semangat, sementara aku masih memikirkan Bom.
Aku semakin lesu kalau mengingat kejadian mengenai Bom, aku khawatir dengannya.
"yaa... hyung, kau kenapa?"
"ah, Jiyong.. aniii, sedang tidak ada mood berlatih saja"
"ohhh, begitukah?" Jiyong menghampiriku.
"patah hati ya?" Jiyong menggodaku.
"ah? aniiii..." Aku menyembunyikan kepanikanku saat Jiyong menebak perasaanku.
"ah hyung, dari dulu kamu memang tidak pandai berbohong ya, hahaha"
Aku hanya terdiam melihat jiyong menghampiriku sambil tertawa.
"ada apa? patah hati kah?"
"ne...." jawabku singkat, padat dan jelas.
"ah, jangan seperti bocah hyung."
"apa maksudmu?"
"aku tidak tau masalahmu, tapi... kalau memang hyung mencintai wanita yang hyung cintai sekarang, kejar saja. jangan menyerah sampai dia yang mengatakan tidak menginginkanmu"
Jiyong berjalan mundur sambil mengedipkan mata ke arahku.
Ia mengedipkan mata sambil mengarahkan matanya ke pintu.
Ah, aku mengerti, ia menyuruhku untuk mengejar wanita yang kucintai sekarang.
Mengejar Bom.
aku tertawa sejenak lalu berlari keluar dari tempat latihanku.
Aku berlari ke tempat Bom bekerja.
Di kedai, aku tidak melihat sosok Bom sedikitpun.
Aku melihat di bagian kassa, di sekeliling kedai, aku tidak menemukannya.
Aku menghampiri salah seorang pegawai disana.
"ah... mianhae, Sa..." Aku mencoba melihat name tag nya.
"ah, mianhae Sandara..."
"ne?" Ia menengok ke arahku.
"ah, apa hari ini Bom tidak masuk kerja?"
"ne.. hari ini aku tidak bertemu dengannya. Bom tidak masuk bekerja.."
Aku tidak merespon, hanya terdiam.
"ah, jangan-jangan kamu TOP?"
"ne! aku TOP."
"ah! sebentar sebentar..." Sandara masuk ke ruangan manajer kedai itu, aku hanya memperhatikannya.
Setelah keluar, ia kembali menghampiriku membawa sesuatu.
Aku tidak jelas melihatnya dari jauh.
"Bom menitipkan surat dan undangan ini kepada manajer ku, dia bilang pasti ada laki-laki bernaam TOP mencarinya. Ia meminta memberikan ini kepadamu"
"ah, kham... khamsahamnida..."
Sandara pun meninggalkanku.
Tanganku bergetar tidak berhenti saat aku melihat undangan yang diberikan itu.
Undangan pernikahan Bom dan Taeyang.
Aku membuka undangan itu.
Pernikahan Bom akan dilangsukan besok.
"se.. secepat inikah?!" aku bergumul kesal dan takut.
Lalu aku membuka surat yang ditulis Bom sendiri.
ya... TOP....
mianhae... aku sudah banyak merepotkanmu..
terima kasih kamu sudah sangat baik terhadapku.
kamu sudah membuka mataku.
kamu membuatku sadar kalau ini lah waktunya aku mengambil keputusan.
keputusan untuk masa depan hidupku.
keputusan ku hanya datang sekali bukan?
ahahah.. mianhae TOP.
aku sangat senang mendengar kamu mengatakan kalau kamu mencintaiku kemarin
aku sangat nyaman saat aku berada di dekatmu.
apa ini artinya aku juga mencintaimu?
tapi mianhae TOP...
aku harus menikah dengan Taeyang.
aku berharap bisa bertemu denganmu besok di pernikahanku.
kamu mau datang kan?
Park Bom...
"apa ini artinya aku juga mencintaimu...?"
Kalimat surat Bom yang satu itu terus terngiang-ngiang di otakku.
Bom, ini berarti kamu mencintaiku kan?
"kenapa kamu membohongi perasaanmu sendiri?"
Aku mengepalkan tanganku menahan rasa terpukul yang kurasakan saat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar