6/25/2011

KISS THE RAIN [CHAPTER 4]



TITLE: KISS THE RAIN [CHAPTER 4]
AUTHOR: Jivon / @Gvonnn
CAST: Find it yourself :)
GENRE: Romance
RATING: G


CHAPTER 4

Appa Jiyong menampar pipi Jiyong dengan sangat keras.

“OK! PERGI KAU DARI RUMAH APPA! CARI KEBAHAGIAANMU ITU! SEKARANG KAU SOK-SOKAN BERKATA SEAKAN-AKAN TIDAK BUTUH UANG! SILAHKAN!! PERGI!! KITA LIHAT SAMPAI MANA KAU BISA BERTAHAN!!”

“FINE!!”

BLAMM!

Suara pintu yang dibanting, sepertinya appa Jiyong sudah keluar. Suasana di ruangan Jiyong menjadi sangaaaaat hening dan menakutkan. Bulu kudu ku merinding merasakan hawa-hawa yang tidak enak di ruangan Jiyong.

DRRTTTT…. DRRTTT….

ARGH! Kenapa HP ku bergetar disaat yang sangat-amat-tidak-pas ini?! Aku mengambil HP ku.

Seungri calling

“Aigooo Seungri… hiks kau mau aku mati dibunuh Jiyong ya? Menelpon disaat tidak pas begini hiks…..”

Aku mengangkat telpon Seungri dan menjawab nya sambil berbisik seeeeee-pelan mungkin.

“Ya~ Seungri-ah~ Nanti ku telpon lagi~ Aku sedang sibuk~!” Aku mematikan telponku. Baru aku mau memutar badanku, aku melihat kaki Jiyong sudah ada di depan kolong meja.

“He… he….. Annyeong?” Aku mengangkat ‘high-five’ ku ke arah nya.

“Sedang apa disini? Keluar dari mejaku.”

Aku merangkak keluar dari kolong meja Jiyong. Berdiri dan merapikan baju ku.

“Ya, kau…. Tidak apa?” Aku melihat pipi Jiyong yang semakin merah.

“Yahhhhhh, menurutmu?”

Aku mengangkat kedua bahuku.

“Yap, seperti yang sudah kau dengar aku sudah keluar dari keluarga Kwon.” Jiyong menutup papan nama kwon jiyong yang ada di mejanya, “Kau! Ikut aku sekarang.”

“K-Kemana?”

“Ikut saja. Bawel…” Jiyong melepas jas nya lalu menarik ku entah kemana.

Rupa-rupa nya ia ke bank mengambil uang yang ada di dalam tabungannya.



“Kau jangan salah sangka, ini bukan uang appa ku. Ini uang hasil jerih payahku, kalau aku tidak mengambilnya sekarang, pasti dipakai foya-foya olehnya. Tau?”


Aku membulatkan bibirku menganggukan kepalaku.

“Lalu sekarang? Kau mau tinggal dimana?”

“Tidak tau.”

“OH! Bibi yang tinggal disebelah kedaiku, dia menyewakan kamar untuk mahasiswa-mahasiswa. Kau mau tinggal disana?”

Jiyong berpikir sejenak. “Rapi? Bersih? Tidak berisik? AC? TV?”
Aku mengerutkan dahi ku mendengar jawabannya.

“Heisss kau pikir hotel? Pulang saja kau ke rumah appa mu kalau begitu!”

“Yeeee aku hanya bertanya. Kenapa harus marah begitu.”

“Tentu saja, cara bicara mu yang sombong itu belum hilang tau? Lagipula sebentar lagi musim dingin, untuk apa pakai AC? Mau jadi putri salju?”

“Ah! Musim dingin! Temboknya tebal? Tipis?” Lagi-lagi Jiyong bertanya.

“Grrr….. tidak ada tembok!” Jawabku kesal.

“Heiss aku serius.”

“Mana ku tau Jiyong…. Kalau kau kedinginan yan pakai sweater mu, jaketmu, jangan seperti orang susah begitu….!”

“Aku memang orang susah sekarang. Hm hm hm.” Jiyong tertawa kecil.

“Susah kok ketawa. Hiiii.” Aku berjalan meninggalkan Jiyong.

Tidak tau kenapa, sekarang aku malah jalan dengan Jiyong. Aku berjalan mengikuti Jiyong yang mencari mobilnya. Tapi tidak ada….

“KEMANA MOBILKU?!”

“APPA! BAHKAN MOBIL KU PUN KAU AMBIL!? ARGH!” Jiyong melempar kunci mobil yang ada ditangannya ke jalan raya. Hancur, terlindas mobil-mobil yang melindasnya.

Jiyong mengambil HP nya memandangi nya dengan amarah, “Benar-benar….! Benar-benar…..! Ku hancurkan saja HP ini biar putus hubungan beneran dengan pria  itu….!”

Jiyong sudah mengangkat tangannya hendak membanting HP itu kejalanan tapi berhenti karena mendengar ucapanku.

“Kau mau membanting HP itu? Kau pikir kau masih kaya sekarang? Katanya sekarang susah, tapi masih mau boros merusak HP. Hm hm hm.”

“H-H-Heiss…!” Jiyong kembali menyimpan HP nya ke dalam kantor.
“Terserah!” Jiyong berjalan meninggalkanku.

“Hemmmm, kira-kira kemana ya aku bisa mecari tempat tinggal~ Aku susah sekarang tidak kaya seperti dulu~Hm~” Aku menyindir Jiyong.

Benar saja, langkah kaki nya berhenti saat mendengar sindiranku. Ia membalikan badannya dan berjalan kembali ke arahku, kali ini dengan langkah kaki ringan tidak seperti saat marah tadi.

“Kenapa kembali kesini?” Sindirku lagi.

“Heisss berhenti menyindirku begitu. Iya aku janji tidak sombong lagi. Aigo.”

Fu~fu~fu~ Aku tertawa puas didalam hati saat melihat tuan kaya-raya  yang sombong sudah K.O seperti itu dihadapanku. Biar dia belajar untuk rendah hati sedikit fu~fu~fu~.

“Yasudah ayo kita pu- AH!” Aku menunjuk kepala Jiyong.

“W-Wae?”

“S-S-S-Salju! Salju pertama sudah turun!” Aku melihat setitik salju turun dan mendarat di rambut Jiyong.

Semakin lama semakin banyak rintik-rintik salju berjatuhan ke bawah, udara mulai terasa semakin terasa dingin. Aku yang masih kegirangan melihat salju melompat  kesana kemari.

“Brrrrr! Dingin sekali!” Jiyong yang hanya memakai kemeja melipat tangannya menggigil kedinginan.

“Ah! Iya! Aku hampir lupa!” Aku mengeluarkan sweater rajutan eomma. “Pakai ini!”

“Mwo? Apa ini?”

“Itu makanan. Kau lihatnya itu apa? Sweater kan? Heiss.”

“Hiss! Jutek!” Jiyong mengambil sweater itu dari tanganku lalu memakainya.

“Aigooo……”

“Wae? Hangat bukan?” Aku tersenyum bangga.

“Ne… Kau beli dimana rajutan ini?”

“Beli? Enak saja itu eomma ku yang merajut nya khusus untukmu! Balasan karena kau sudah memberi nya mantel kemarin.”

“O-Oh….” Jiyong terdiam sejenak memperhatikan sweater yang dipakainya. Raut wajahnya berubah saat aku bilang kalau sweater itu dibuatkan khusus oleh eomma untuknya.

“Kenapa? Tersanjung ya? Orang susah punya hati mulia?” Lagi-lagi aku menyindirnya.

“Apaan sih kau ini!” Jiyong tertawa. Baru kali ini aku melihatnya tertawa, manis…..

“Ah, yasudah ayo kita pulang! Aku sangat kedinginan!” Badanku mulai bergetar karena kedinginan.

“Kau kedinginan?” Jiyong merangkulku. “Begini saja.”

DEG DEG DEG DEG! Jantungku mau copot rasanya! Wajahku memerah, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, nafasku menjadi tidak beraturan waktu Jiyong melingkarkan lengannya di pundakku.

“Hangat tidak?”

“Tidak.” Jawabku singkat, datar, tanpa ekspresi.

“Heisss! Yasudah!” Jiyong mendorongku pelan menjauh darinya sambil tertawa.
Aku dan Jiyong berjalan pulang ke kedai milikku.


“Eomma! Aku pu- HOOO!” Aku menunjuk-nunjuk Seungri yang sedang membantu Seunghyun oppa di kedaiku.

“Sedang apa kau disini?” Tanyaku.

“Hanya bantu-bantu. Hm, kupikir kau sedang sibuk, bersama Jiyongkah?” Seungri melihat Jiyong yang berdiri disebelahku.

“Aigo ceritanya panjang, nanti saja ku ceritakan. Jiyong, kau ke sebelah saja, nanti keburu kamarnya diambil orang lain.”

“Kamar? Jiyong mau tinggal disini?”

“Disebelah.” Jawab Jiyong singkat keluar dari kedaiku.

Seungri hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Jiyong yang…. Jutek itu.

“Heiss kalau aku jadi kau aku sudah tidak tahan sama dia yang jutek itu.” Aku membersihkan salju yang menumpuk di pundakku.

“Aku sudah terbiasa. Hm…. Jiyong tinggal di dekatmu seperti nya aku harus sering-sering kemari.” Seungri menarikku dan membantu ku membersihkan salju dikepala dan di pundakku.

“Untuk apa sering kemari?”

“Karena….” Seungri memegang bahuku. “Aku takut kau direbut olehnya?” Seungri tertawa lalu meninggalkanku, berjalan ke arah dapur.

“Chaerin-ah!”

“Mwo?” Aku membalikan badanku.

KLIK!

Seungri mengambil foto ku dengan kamera HP nya. Err.

“Y-YA! Hapus! Cepat hapus! Kau minta ku pukul ya?!”

“Pukul? Boleh… Disini…” Seungri mendekatkan pipi nya di depan wajahku.

“A-A-Lupakan!” Aku pergi meninggalkan Seungri.


Kwon Jiyong POV

Ini aku, Kwon Jiyong. Anak pengusaha kaya yang sekarang jatuh miskin karena putus dengan appa ku yang sangatttttttttt egois.
Sekarang aku tinggal di kamar yang tidak sebesar kamarku, dirumah yang letaknya bersebelahan dengan cewek yang membuatku keluar dari kekayaanku, Lee Chaerin.

‘blupblupblup’ Suara keypad HP lollipop ku yang ku pencet-pencet saat tidak ada kerjaan.

KRINGG!!!

Ringtone HP ku yang meledak-ledak bunyi nya membuatku melempar HP ku ke atas kepalaku.

“Aigo! Mwo?” Aku mengangkat telponku.

“Hyung.”

“Oh, Seungri. Wae?”

“Menurutmu Chaerin itu bagaimana?”

“Chaerin? Hm…. Tidak sopan, kasar, tidak ada bagus-bagusnya….!” “Tapi manis…”

MWO?! MANIS?! Apa yang sedang kupikirkan bisa bilang kalau Chaerin itu manis, aku tidak tau kenapa kata-kata itu keluar dari mulutku begitu saja.

“Kau menyukainya?”

“M-Menyukai nya? Tidak.” Jawabku sambil memijit-mijit leherku pelan.

“Oh, aku lega mendengarnya.”

“Maksudmu?”

“Karena aku menyukainya dan….. Kalau kau terus ada didekatnya, bisa menyusahkanku untuk mendapatkannya.”

“M-M-Mwo?! Ya! Kalau kau suka ambil saja, aku tidak menyukainya! Heisss.”

“Ne, aku akan mengambilnya… Darimu. Annyeong.”

Seungri mematikan telponnya, tidak memberi ku kesempatan untuk menjawab kalimat nya itu! Kesal, aku melempar HP ku jauh-jauh mencari ketenangan. Aku duduk di jendela yang ada di kamarku, melihat keluar.

KRIINGGG KRIINGG KRINGGG

Berapa kali HP ku berbunyi, aku hanya memandanginya, sama sekali tidak ada mood untuk mengangkatnya.

“KWON JIYONG!”

BRUK!!

Aku terjatuh dari jendela ku, beruntung aku jatuh ke kamar ku bukan jatuh keluar jendela ku.

“MWO?!” Aku berteriak keluar jendela sambil memegangi kepala ku yang tadi terjeduk.

“Kau kenapa tidak mengangkat telponku?!”

“Oh, kau.” Aku melihat Chaerin berdiri di bawah. “Ku kira yang menelponku tadi pacarmu.”

“Pacar? Siapa pacarku?”

“Seungri.” Jawabku singkat.

“Hah? Jangan bercanda aku hanya teman dengannya, kau ini.”

“tapi dia tidak menganggapmu sebagai teman.”

“Benarkah? Mungkin aku juga bisa menganggapnya lebih dari teman.”

“M-M-Mwo??!” Aku mengeluarkan kepalaku.

“Aigo aku hanya bercanda hahaha. Kau keluar sini, bintang nya bagus hari ini.”

“Tidak mau, dingin! Aku mau tidur saja.”

“Jangan begitu, ayolah kesini!”

Chaerin terus mendesakku untuk turun kebawah, kalah berdebat, aku turun kebawah memakai sweater yang diberikan eomma Chaerin untukku.

“Ahhhhh dingin sekaliiiiiiiii…!” aku menggigil kedinginan.

“Heiss pabo, kau keluar hanya memakai selapis sweater tentu saja dingin!” Chaerin melepas syal nya yang ada di lehernya.

“Sini.” Chaerin melilitkan syal merah maroon itu di leherku.

“Memang kau tidak kedinginan?” Tanyaku menutup setengah wajahku dengan syal itu.

“Tentu saja kedinginan. Tapi sepertinya kau lebih kedinginan dariku.”

KRING KRING~

HP Chaerin berbunyi, Chaerin mengangkat telponnya di depanku. Aku bersender di sebuah tiang menunggu nya selesai dengan telponnya.

“Hm.. araso araso, hahaha. Okey see you, bye.” Chaerin menutup telponnya dan menghampiriku.

“Siapa?” Tanyaku.

“Seungri.”

“Ada apa?”

“Hm, kenapa aku harus memberitahu mu?”

“Karena aku ingin tau.”

“Dia bertanya apa aku sedang bersama mu, ku jawab iya. Lalu dia bilang mau kemari  besok.”

“Oh.” Jawabku singkat tidak heran.

“Ya! Apa ada yang kau rahasiakan  dengan Seungri mengenai ku?”

“M-Mwo? Tidak, tidak ada.” Aku bersiul-siul.

“Kau…….!” Chaerin menaruh telunjuknya di pipiku. “Jangan berbohong.” Chaerin tertawa.

“H-H-Hah? Aku tidak  berbohong.” Aku menepis tangan Chaerin.

“Hahahaha. Wae? Kau grogi?”

“Tidak aku tidak grogi! HEISS sebenarnya ada apa menyuruhku kebawah malam-malam begini?!” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan ku.

“Ah iya! Aku hampir lupa! Besok temani aku?”

“Kemana?”

“Ke toko sayur, beli bahan untuk kedai ku.”

“Kenapa harus aku? Daesung? Oppa mu?”

“Aigo mereka sibuk. Ya? Temani aku Kwon Jiyong…..” Chaerin mengguncang-guncangkan bahuku.

“N-Ne ne ne, kalau aku sudah bangun besok.”

“HEISS. Yasudah cepat masuk, nanti kau sakit.” Chaerin mengusirku.

“Kau ini sekarang malah mengusirku. Mau mu apa??” Aku tertawa.

“Mau ku? Aku mau kau masuk kedalam.”

“Ani, kau masuk dulu baru aku masuk.”

“Wae? Kau mengkhawatirkanku?” Goda Chaerin.

“H-H-Hah? T-Tidak HEISS yasudah aku masuk.” Aku meninggalkan Chaerin yang masih tertawa.

“Sana masuk kenapa masih disana? Masuk!” Aku mengusir-ngusir Chaerin sampai masuk ke dalam.

“Ne ne aku masuk aku masuk…” Chaerin yang masih tertawa masuk ke dalam.

Sebuah senyuman terpancar di wajahku, tidak tau kenapa rasanya aku tidak bisa berhenti tersenyum. Aku memegang syal milik Chaerin yang masih terlilit di leherku, senyum di wajahku semakin menjadi-jadi tidak bisa kutahan.


Still Kwon Jiyong’s POV

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun, berkali-kali aku mencoba tidur lagi tapi tidak bisa. Aku membalikan badanku kesana kemari tapi tetap tidak bisa tidur.
Aku membuka mata ku pelan-pelan, dinding kamar kecil ku terlihat jelas, syal Chaerin masih melilit di leherku. Salju mulai bertumpukan di luar, udara semakin dingin.
Tidak tahan dengan udaranya, aku mandi dengan air hangat lalu pergi ke rumah Chaerin yang ada disebelah tempat tinggalku.

“A-Annyeong.” Aku menyapa Seunghyun dan Daesung yang sedang sibuk.

“Oh, Jiyong! Annyeong! Pagi sekali kau bangunnya.” Seunghyun tersenyum ramah padaku.

“Ne… Chaerin… ada?”

“Sepertinya dia masih diatas, naik saja.” Seunghyun mengijinkan ku untuk naik ke atas.

Aku membungkukan badanku lalu naik ke atas. Aku merasa sedikit aneh berjalan-jalan bebas di rumah Chaerin.

“Chaerin-ah…?” Aku mengetuk salah satu pintu kamar yang aku bahkan tidak tau kamar siapa.

“Ne?”

Rasanya aku ingin kabur karena malu saat aku melihat eomma Chaerin keluar dari kamar yang ku ketuk itu.

“H-H-HO! M-M-Mianhae…. Ku pikir ini kamar Chaerin.” Berkali-kali aku membungkukan badanku meminta maaf.

“Aigoo.. Tidak apa-apa. Kau… teman Chaerin?”

“N-Ne… Kwon Jiyong imnida.”

“Oh, jadi kau Jiyong? Yang memberikan ku mantel waktu itu? Khamsahamnida.”

“Ah, tidak. Aku yang harus berterima kasih sudah membuatkan ku sweater. Khamsahamnida.”

Eomma Chaerin hanya tersenyum menatapku, “Kalau kau ingin bertemu Chaerin, kamar nya ada disana.” Eomma Chaerin menunjuk kamar yang ada disudut.

“G-Gomawo.” Aku berjalan mundur sambil membungkukan badanku, berjalan ke kamar Chaerin.

KREKK!

Aku membuka pintu kamar Chaerin pelan-pelan, mengintip ke dalam kamarnya. Aku melihat Chaerin yang sedang bernyanyi pelan di atas atap yang ada di luar jendelanya. Pelan-pelan aku melangkahkan kaki ku menghampiri nya. Aku mendengar suara nya yang merdu saat menyanyi.

You and I together
It just feels so right
Ibyuliran maleun never
Geu nuga mweorahaedo nan geudael jikilgae

You and I together
Nae du soneul nochijima
Annyoungiran maleun never
Naegae I saesangeun ojik neo hanagiae*

You maneun sarangcheoreom
Oori sarang yeokshi jogeumssik byunhagaetjyo
Hajiman jaebal seulpeo malayo
Oraen chinhan chingu cheoreom
Namaneul mideulsuitgae gidaelsuitgae
I promise you that I'll be right here, baby

Kata-demi-kata dinyanyikan dengan jelas dan merdu. Aku mengurungkan niatku untuk memanggilnya. Aku bersender duduk di dekat jendela kamar nya mendengar nyanyiannya.

“Sudah selesai?” Kata ku saat Chaerin berhenti menyanyi.

“HOOO!” Chaerin yang masih duduk diatap hampir terjatuh karena terkejut, aku menangkapnya dan menariknya kedalam. Alhasil Chaerin jatuh tepat diatasku. Wajahnya tepat ada di atas wajahku.

DEG DEG DEG. Aku merasakan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Mataku yang bertatapan langsung dengan mata Chaerin membuatku semakin ingin gila rasanya.

“A-A-AAAAAAAAAAA!” Chaerin berteriak dan cepat-cepat berdiri.

“HEISS! JANGAN BERTERIAK! Aku juga kaget tau!” Aku mengelus-elus dadaku yang masih berdetak cepat.

“K-K-K-Kau sedang apa disini?!”

“M-M-M-Masih bertanya! Katanya minta ku temani ke toko sayur!”

“T-T-T-Tapi kenapa harus kesini?!”

“I-I-Itu karena kau tidak datang-datang!” Aku melihat wajah Chaerin yang memerah, pipi ku pun ikut memerah.

“S-S-Sudah aku tunggu dibawah!”

Aku berlari meninggalkan Chaerin sendirian dikamarnya, aku duduk dibawah mengatur nafasku yang masih tidak karuan.

“Jiyong sedang apa kau disini?”

Aku melihat Seungri yang baru sampai di kedai Chaerin, menatapku penuh rasa curiga.

“Kenapa menatapku begitu?” Jawabku sinis.


“Ku kira kau sendiri yang kemarin bilang kau tidak suka dengan Chaerin.”
“Aku memang tidak menyukainya. Memang aku tidak boleh menginjakkan kakiku disini?”

“Ya, silahkan. Tapi tolong, jaga jarak dengan Chaerin.” Seungri menabrakkan bahu nya ke bahuku. “Dia milikku.”

to be continued~

1 komentar:

  1. si seungriii!!! iiih gemes deh, ji yong nya sok jual mahal nih bikin gergetan >,<

    BalasHapus