6/24/2011

KISS THE RAIN [CHAPTER 2]



TITLE: KISS THE RAIN [CHAPTER 2]
AUTHOR: Jivon / @Gvonnn
CAST: Find it yourself :)
GENRE: Romance
RATING: G
Setelah melunasi semua biaya pengobatan eomma ku dan menebus obat eomma ku, aku kembali berjalan menuju kamar rawat eomma.
Aku berjalan sambil memijit-mijit dahi ku pelan, berjalan melihat kebawah.

BRUKK!

Seseorang bertabrakan denganku cukup keras, aku mundur dengan langkah yang salah membuat heels sebelah kanan ku patah sebelah dan aku terjatuh.

“YA! Jalan itu pakai mata!” Aku memarahi orang yang menabrakku sambil berusaha berdiri.

“Bukannya kau yang tidak lihat jalan? Stupid.”

“M-Mwo?!” Aku berusaha berdiri tapi kembali terjatuh karena kaki ku yang terkilir.

Aku melihat seorang pria dengan rambutnya yang cokelat tua, wajahnya yang tampan tapi sangat angkuh memandangi ku dengan tatapan sombongnya.

“Trus sekarang kau tidak mau membantuku?!”

“Aku? Menolongmu? Aku sudah mencuci tanganku, masa aku mengotorinya lagi?”

“Apa maksudmu?!” Aku mencoba berdiri tapi lagi-lagi terjatuh.

“Ya, Seungri-ah. Kau saja yang tolong dia. Aku….. Tidak mau.”  Pria itu memandangku dengan wajah ‘iuh’ nya.

Rasanya kalau bisa aku ingin menampar wajah pria itu kalau kaki ku tidak sakit. Pria yang tadi memungut HP ku di dekat toilet ternyata bernama Seungri, dia tidak seperti temannya yang sombong, angkuh dan tidak tau diri. Dia cukup baik, ramah dan sopan. Dia yang menolongku berdiri.

“Kau tidak apa-apa?” Seungri membantuku berdiri.

“Ne… A-Aw! Jangan disenggol!” Aku memegangin betis ku yang sakit.

“Kaki mu terkilir? Bisa berjalan?” Seungri mencoba memapahku.

“Ne, aku tidak apa.” Jawab ku singkat meninggalkan mereka berdua.

“Wanita tidak sopan. Sudah ditolong malah main pergi, tidak bilang terima kasih lagi.”

GRRR! Rasanya aku ingin menelan pria itu hidup-hidup!

“Ne, TERIMA KASIH. KHAMSAHAMNIDA. GOMAWO. Puas?”

“Kenapa kau bilang terima kasih padaku? Memang aku yang menolongmu? Aku tidak pernah ada niat menolong mu tuh.”

“HIIIIIIIIIIIIIIIIH. Apa sih mau mu?!” Bentakku.

“Aigo sudahlah Jiyong hyung.”

“HO, jadi nama mu Jiyong? Jiyong…. Pabo.” Gumam ku kesal.

“M-Mwo?! Bicara apa kau?!”

“Aigo! Sudah-sudah!” Seungri melerai aku yang hampir bertengkar dengan Jiyong.

“Ayo ku bantu kau jalan, kau mau kemana?”

Aku menunjuk kamar rawat yang ada diujung lorong. Seungri membantuku berjalan ke kamar rawat eomma.

“Gomawo. Mian sudah merepotkanmu.”

“Cheon.” Seungri mengulurkan tangannya padaku, “Seungri imnida.”

“Chaerin imnida.” Aku membalas uluran tangan Seungri.

“Hemmmm… kau tau aku ini bukan tipe orang  yang menolong  orang ikhlas.”

“Maksudmu? Kau mau minta imbalan?” aku mengkerutkan dahiku.

“ne.. tukar dengan….. nomor mu?” seungri tersenyum.

“Heiss.. bilang saja kau memang mau mengajakku  berkenalan dari awal. Iya kan?” Aku tertawa kecil.

“yaaaa, kurang lebih begitu. Melihat nona cantik yang marah-marah di toilet tadi?”

“Hahaha. Seharusnya kau tau HP ku sudah ku lempar tadi jadi aku tidak bisa memberi mu nomor ku, ya kan?”

“betul juga.” Ekspresi nya membuatku tertawa pelan.

“ Chaerin-ah!” Aku melihat Seunghyun oppa yang keluar dari kamar eomma. Seunghyun oppa terkejut saat melihat betisku yang memerah dan sedikit bengkak.

“Aigo, kaki mu kenapa?”

“Jatuh tadi. Tapi sudah tidak apa-apa.”

Seunghyun oppa menatap Seungri dengan tatapan sinisnya, mengira yang melukai ku adalah Seungri.

“Heiss oppa, jangan memandang Seungri begitu. Dia ini yang menolongku tau?” Aku memukul bahu Seunghyun oppa pelan.

“Oh, begitu..” Seunghyun oppa tersenyum malu, “Gomawo…..?”

“Ah, Seungri, Seungri imnida.” Seungri membungkukan badannya.

“Seunghyun imnida.” Seunghyun oppa membungkukan badannya.

“SEUNGRI-AH KENAPA LAMA SEKALI~~”

Aku melihat Jiyong yang duduk berselonjor di bangku depan memanggil-manggil Seungri. Berisik sekali.

“Ya, sudah kau pulang saja. Teman mu itu berisik sekali rasanya ingin ku tendang dia.”

“Lain waktu kau bisa menendangnya.” Seungri mengajakku bercanda.
“Ah, beri aku alamatmu?” Seungri tersenyum memberikan HP nya padaku.

Aku mengetik alamat rumahku di HP Seungri dan membiarkannya pulang. Aku tetap memancarkan senyum di wajahku sampai…….. Aku melihat Seunhyun oppa melirikku dengan senyum nakal di wajahnya.

“A-Apa? Ada apa?”

“Kau menyukai nya?” Senyum Seunghyun oppa semakin menjadi-jadi.

“Oppa kau minta ku pukul ya? Aku tidak menyukainya!”

“Tapi sepertinya dia menyukaimu.”

“M-M-Masa iya? Ah ngaco.” Aku berjalan dengan kaki pincang.

“Temannya tadi juga lumayan tampan.” Seunghyun oppa memapahku.

“Memang sih, lumayan…. Tapi, aigo, sombongnya bukan main. Kalau aku bisa telan dia, sudah aku telan dia daritadi. HISH!”

“Begitu?” Seunghyun oppa tertawa.

“Ah iya oppa, aku tidak akan kembali ke Perancis lagi. Aku akan tinggal dengan kalian disini, aku juga bisa bantu kalian di kedai.”

“M-Mwo? Kenapa mendadak sekali?”

“Aku sudah tidak tahan tinggal dengan manusia macam appa. Hish.”

“Disini tidak mewah seperti disana loh.”

“Oppa, kau pikir aku hidup cuma untuk harta? Aku juga mau menikmati hidupku dengan keluarga ku.”

“Ne, ne…” Seunghyun oppa tersenyum dan merangkulku.

***

“Mian… Kami sudah berusaha sebisa kami… Tapi nyawa eomma mu sudah bisa ditolong lagi.”

“M-Mwo? Dokter jangan main-main ya, aku tidak ingin bercanda!”

“Kami serius nona….”

BRUKKK!

Aku terguling dari ranjang kecilku dan terjatuh. ARGH mimpi buruk! Aku melihat ke sekeliling kamarku, sepi… Seunghyun oppa masih menjaga eomma di rumah sakit. Apa boleh buat aku hari ini sendirian dirumah.

TOK TOK TOK

Suara pintu rumahku, ah! Aku baru ingat aku harus membuka kedai dan mengurusnya hari ini. Tapi bagaimana caranya?! Aku tidak pernah mengurus hal semacam ini sebelumnya.
Aku turun dengan hanya memakai hoodies kesayanganku dan hotpant. Aku membukakan pintu, seorang pria dengan mata sipit nya menyapa ku dengan ramah.

“A-Annyeong! Kau pasti adik Seunghyun hyung ya? Daesung imnida.” Pria sopan itu membungkukan badannya.

“A-Annyeong, Chaerin imnida.” “Kau bekerja disini?” Lanjutku.

“Ne.. Aku kerja sambilan sebagai koki disini. Kau mau coba masakanku?” Daesung tersenyum manis, menyisakan mata nya yang sipit dan masuk ke dalam dapur.

“Nah! Kau coba masakanku!” Daesung membawakanku semangkuk makanan  yang sangat harum.

Aku mencicipi makanan itu, lama kelamaan aku memakannya semakin lahap. Benar-benar enak! Belum pernah aku makan makanan seperti yang dimasak oleh Daesung ini.

“Aigo, ini enak sekali. Aku belum pernah makan makanan se-enak ini.” Aku mengunyah makanan di mulutku.

“Mwo?! Belum pernah?!”

“Hm.. Sejak kecil aku tinggal di Perancis, baru kali ini aku kembali ke Korea, benar-benar enak!”

Daesung hanya tersenyum mendengar pujianku dan kembali ke dalam menyiapkan makanan lainnya.

TOK TOK TOK

Lagi-lagi aku mendengar suara ketukan pintu, aku meninggalkan makanan ku diatas meja dan membuka pintu.

“Annyeong….”

“Seungri?” Seungri muncul diambang pintu rumahku. “Sedang apa kau disini?”

“Hanya berkunjung. Sedang sibuk?”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Boleh aku masuk?”

“O-Oh iya, tentu.” Aku menyingkir dari pintu membiarkan Seungri masuk.

“Kau sudah sarapan?”

“Aku sedang sarapan sekarang ini.” Aku kembali duduk dan memakan makanan yang dimasakan Daesung untukku.

“Wah sayang sekali. Tadinya aku pikir ingin mengajak mu makan diluar.”

“kau sedang tidak beruntung hari ini, lagipula aku sedang jatuh cinta dengan makanan ini.” Aku mengunyah makanan dimulutku.

“Benarkah? Apa enak?”

“Kau mau coba? Kalau mau aku minta Daesung buatkan satu untukmu.”

Seungri tertawa kecil, menunjukkan gigi gingsul nya yang membuatnya semakin manis. Daesung yang baru keuar dari dapur, membawakan ku segelas air putih.

“Khamsa Daesung.” Aku tersenyum.

“Ne… Aigo, Seungri-ah?!”

“Daesung-ah?!” Seungri tertawa melihat Daesung tertawa.

“Aigo! Sudah lama kau tidak kesini!”

“Kalian? Sudah kenal?” Aku memandang mereka dengan bingung.

“Tentu aku kenal. Dia salah satu pelanggan setia disini. Dia sering datang kesini sebelum kau datang.”

Aku tersedak mendengar perkataan Daesung, “Ohok ohok! J-Jadi kau sering kesini? Heiss masih tanya alamatku kemarin.”

“Loh? Aku kan tidak tau kau tinggal disini.” Seungri tertawa.

“Ohiya, Daesung-ah. Apa bisa aku tinggal sebentar? Aku mau melihat keadaan eomma. Lagipula kasian Seunghyun oppa pasti sudah lelah.”

“Hm, bisa. Tenang saja.” Daesung tersenyum.

“eomma? Eomma mu kenapa?” Tanya Seungri.

“Eomma pingsan kemarin waktu aku baru sampai disini, sekarang sedang dirawat dirumah sakit.”

“Jadi kemarin kau mengantar eomma mu ke rumah sakit?”

Aku menganggukan kepalaku.

“Mau kuantar ke rumah sakit?” Seungri menawarkan tumpangan kepadaku.

“Tidak usah aku bisa naik taksi.”

“Hm, kaki mu masih sakit?”

“Lumayan.” Aku menggoyang-goyangkan kakiku.

“Kalau begitu kau harus ikut aku, aku  yang antar.”

“M-Mwo? Kenapa begitu?”

“Karena aku yang mau.” Seungri menarik lenganku.

“Y-Ya! Aku belum mandi!”

“Oh iya aku lupa. Hahaha. Mian, yasudah kau mandi dulu, aku tunggu kau disini. Aku bantu Daesung sambil menunggumu. Daesung-ah! Ada yang bisa ku bantu?!”

Daesung menjawab dari dalam dapur, “Ada! Cuci sayur, potong sayur, cuci piring, buka pintu, siapkan meja…….”

“Heisss tidak jadi!”

Aku tertawa melihat Seungri, “Ya, jangan begitu. Bantu dia, aku akan mandi.”

Aku meninggalkan Seungri dibawah dengan Daesung. Buru-bru aku beranjak mandi dan bersiap-siap. Mandi, ganti pakaian, tas, apa lagi? Aku berjalan cepat kebawah setelah selesai bersiap-siap.

“Waaaa…” seungri menunjuk rambutku.

“W-Wae? Aneh ya?” aku memegangi kunciran yang menggantung di rambutku.

“A-Ani, tidak aneh. Hanya saja, aku pikir kau lebih cantik kalau rambutnya digerai.” Seungri tertawa.

“Masa? Yasudah lepas saja.” Akuu tertawa kecil melepas ikatan di rambutku, membuat rambut blonde ku tergerai bebas.

“Cantik sekali aigooooo.”

“Sudahlah! Ayo jalan.”

Aku dan Seungri dalam perjalanan ke rumah sakit, kami bercanda-ria sepanjang perjalanan, dia pria yang lucu.

“Ah! Seungri aku turun disini saja. Aku mau beli sesuatu sebentar.”

“Mau kutemani?”

“Ani tidak usah, aku takut kau menungguku terlalu lama, khamsahamnida.” Aku menutup pintu mobil dan meninggalkan Seungri.

Aku berlari pelan dengan kaki ku yang masih terkilir masuk ke mall besar, ingin mencari hadiah untuk eomma dan Seunghyun oppa.

Aku berkeliling melihat-lihat di mall itu, sebuah toko yang memajang sebuah mantel cantik menarik perhatianku. Aku masuk ke dalam toko itu, mendapat sebuah mantel cantik untuk eomma dan satu lagi untuk Seunghyun oppa.
Aku membawa mantel itu ke kasir untuk membayarnya.

“Semuanya ****won.”

Aku memberikan kartu kredit ku kepada penjaga kasir itu.

“Uh…. Maaf nona, kartu kredit anda tidak bisa dipakai.”

“M-Mwo? Coba pakai yang ini.”

“Yang ini juga tidak bisa dipakai. Sepertinya kartu kredit anda diblokir.”

Diblokir?! Keterlaluan ini pasti siasat appa untuk memacingku pulang ke Perancis!

“T-Tunggu coba yang ini!” Aku mengeluarkan semua kartu kredit yang ada di dalam dompetku. Satu demi satu kartu kreditku dicoba oleh penjaga kasir itu. Semua nya sudah diblokir oleh appa! Benar-benar keterlaluan!

“AIGO!” Aku menghela nafas kesal.

“Kalau tidak punya uang ya jangan belanja disini.”

Suara yang aku kenal terdengar dari belakangku, aku membalikan badanku dan benar saja, Jiyong yang aku temui dirumah sakit itu terpampang jelas di hadapanku.

“M-Maksudmu?! Tidak punya uang?! Aku punya!”

“Hm….” Jiyong mengerutkan bibirnya dan melirik ke kartu kredit ku yang berserkan di meja kasir.

“I-Ini karena appa ku memblokir semua kartu kreditku! Aku punya uang siapa bilang aku tidak punya uang?!”

Jiyong hanya melempar senyum penghinaan kepadaku.

“K-Kau sendiri sedang apa disini?!” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Hm, kau lihat apa nama toko ini?” Jiyong menunjuk papan nama toko yang kuinjak.

“Kwon’s boutique?”

“Kau tau nama ku?” Jiyong menunjukkan name pin yang terkait di jas nya.

“K-Kwon Jiyong?! Kau pemilik toko ini?!” Rasanya aku benar-benar ingin menghilang ditelan bumi saat itu.

“Hm…” Jiyong mengerutkan bibirnya lagi dan menunjuk ke arah meja kasir.

“A-AIGO! AKU SUDAH CUKUP STRESS JANGAN MEMOJOKKANKU LAGI HUWAAAAAAAAAA…….!” Aku berjongkok dan mulai memangis didalam toko itu.

“Y-Y-Ya! K-Kenapa menangis?! M-Mau membuatku malu ya?!”

“HUWAAAAAAAAAA……..!!” Tangisku semakin pecah.

“AIGO! SINI!” Jiyong menarikku menuju kantor yang ada didalam toko itu.

“YA pelan-pelan! Kaki ku sakit!” Aku melompat dengan kaki ku yang tidak sakit.

Jiyong menutup pintu kantornya, menutup jendela nya dengan tirai dan berdiri dihadapanku.

“Kau sengaja ya?! Acting?! Mau mempermalukanku?!”

“Siapa yang acting?! Aigo!” Aku mulai menangis lagi.

“Y-Y-Ya! Aigo! J-J-Jangan menangis lagi!” Jiyong melempar kotak tissu padaku.

Aku mengambil tissu itu satu per satu menghapus airmata ku, membuang ingusku, menggumpalkan tissu itu dan membuangnya ke lantai. Aku terus mengulangi itu.

“Y-Ya! Jangan buang tissu kotormu itu dilantai! AIGOOOO!” Jiyong memungut tissu-tissu di lantai dengan ujung jarinya dan memasukannya satu-satu ke tempat sampah.

“HUWAAAAAAAA……!!!!” Aku melempar kotak tissu yang sudah kosong, tidak sengaja kena kepala Jiyong.

“HEISSSSS!”

“Aku anak tidak berguna…. Hiks….” Aku melipat tanganku diatas meja Jiyong dan membenamkan kepalaku.

“Kau harusnya bersyukur bisa punya banyak  uang, hidup bahagia, keluarga lengkap….. Hahhhh…..”

“M-M-Maksudmu?”

“Hahhh…” Aku menghela nafasku, menunjukan wajahku dihadapan Jiyong. “Pertama!” Aku mengacungkan telunjukku. “Eomma dan appa ku sudah cerai sejak aku kecil. Kedua! Eomma ku sedang sakit dan dirawat dirumah sakit. Ketiga! Appa ku memaksaku untuk menikah dengan pria yang bahkan aku belum tau wujud nya. Ke-empat! Semua tabunganku diblokir oleh appa ku. Ke-lima! Aku tidak bisa membiayai eomma ku lagi. Ke-enam! Aku hanya akan menjadi beban untuk oppa ku disini. Aku benar-benar bodoh! Hiks….”

Aku kembali membenamkan wajahku di meja Jiyong.

“O-O-Oh…” Jiyong membulatkan bibirnya dan menggaruk kepalanya. “Ada benarnya juga perkataanmu itu.”

“TENTU SAJA AKU BENAR!” Aku yang tiba-tiba berdiri men-jeduk-kan kepalaku dengan dagu Jiyong. Membuatnya jongkok kesakitan memegangi dagunya.

“A-A-Aigo, sakit ya?” Aku mendekat.

“Tentu saja sakit pabo….. Aigo…..”

“Mian….” Aku berjongkok disebelah Jiyong.

“Tapi… Shhhhh, berat juga masalahmu.” Jiyong mengacungkan telunjuknya didepan wajahku.

“Tapi pertama!” Jiyong membalas omongan ku, “Hidup kaya tidak selamanya bahagia. Kedua! Eomma appa ku jarang punya waktu untukku. Ke-tiga! Kepala mu keras seperti beton….”

“HEISSS.” Aku menjitak kepalanya, “Ini bukan saatnya melawak.”

“Kau harus hilangkan sikap sombong mu itu. Jangan seperti kemarin seperti di rumah sakit. Keterlaluan!” Aku menjitaknya lagi.

“HEISSS jangan menjitakku terus. Ya ya ya, mian…”

“Kau sekali-sekali harus belajar hidup susah tau?” Aku menyipitkan wajahku menatapnya.

“Mwo? Maksudmu?”

“ERRRRR. Kau datang ke sini besok.” Aku menulis alamat ku di kertas kosong yang ada di meja kerjanya, “Aku beritau kau besok. Datang!”

Aku beranjak berdiri dan membuka pintu, hendak keluar dari ruangan Jiyong.

“Ah…..!”

“Mwo?” Aku menghentikan langkah kaki ku.

“Mantel yang kau pilih tadi… Kau boleh bawa pulang.”

“Mwo? Kau mengejekku? Sudah tau kartu kreditku diblokir.”

“HEISS aku kan tidak minta bayaran. Gratis!”

“Wae? Mengejekku yang miskin ini?”

“HEEEE kau mau tidak?!”

“M-Mau! Hehehe.” Aku tersenyum. “Khamhamnida, kau baik juga ternyata. Ingat besok datang! Pagi-pagi!”

“Eh tunggu!” Jiyong memanggilku.

“Apa lagi?”

“Nomor mu? Supaya aku bisa menghubungimu.”

“Nomor? Aku miskin tidak punya HP.” Aku tertawa lalu meninggalkan nya, aku tidak mengambil mantel yang ia berikan padaku. 

to be continued~

3 komentar:

  1. Wekeke akhirnya si Jiyong agak simpati juga sama Chaerin, habis dr awal sungguh terlalu dah kelakuannya -.-
    #Hammer Jiyong, bapaknya Chaerin juga hmpff

    BalasHapus
  2. kekekekee~ betul sekali 100 untuk mu nak
    kekekekek~

    BalasHapus
  3. annyeong :) new reader disini :) ff'a bagus (y) ^^

    BalasHapus