TITLE: I'M NOT YOUR BARBIE [PART 4]
AUTHOR: Jivon / @jivoncornelia
CAST: Find it yourslef;)
GENRE: Romance
RATING: G
Park Bom's POV
Sinar matahari menembus jendela kamar yang ku tempati di rumah Seunghyun ini. Aku membuka mata ku perlahan-lahan dan merenggangkan otot-otot punggungku yang terasa pegal.
Aku keluar dari kamarku itu dan turun kebawah, ke arah dapur mencari sesuatu yang bisa menyegarkan tenggorokan ku yang kering.
Kubuka kulkas besar yang ada di dapur Seunghyun, ku selidiki dari atas sampai bawah. BINGO! Aku menemukan bir kalengan dingin, tepat seperti apa yang kubutuhkan.Aku mengambil satu kaleng bir dingin dari kulkas Seunghyun dan membukanya. Aku berjalan ke ruang tengah Seunghyun dan menyalakan TV dengan volume yang cukup keras.
"Ya....." Seunghyun keluar dari kamarnya dengan wajah yang masih mengantuk.
"Kecilkan sedikit volume nya. Aku masih ingin tidur."
"Sudah pagi, bangunlah. Kau harus mengantarku pulang." Aku meneguk bir yang ada di tanganku.
"Heiss itu bir ku." Seunghyun duduk disebelahku, jaraknya sangat dekat denganku hingga pundak ku dan pundaknya saling bersentuhan.
"Lalu? Aku tidak boleh mengambilnya?" Aku meneguk bir itu lagi.
"Tentu saja tidak. Minta ijin dulu denganku."
"Wae? Bukankah aku ini wanitamu?" Aku sengaja menekan nada bicaraku dan menyenderkan kepalaku di pundak Seunghyun beberapa detik lalu kembali mengangkat kepalaku.
"Hah...." Seunghyun menghela nafas sembari tertawa mendengar kata-kata ku.
"Right. Kau wanitaku." Giliran Seunghyun membalas permainanku. Seunghyun melingkarkan lengannya di pundakku.
"Ya.... Aku mau mandi, setelah itu kau harus mengantarku ke motorku." Aku menepis lengan Seunghyun lalu beranjak berdiri meninggalkannya.
***
"Ya kau masih lama?" Seunghyun mengetuk-ngetuk pintu kamar ku.
Aku yang sudah selesai mandi dan bersiap-siap keluar memakai pakaian balap ku yang kemarin sudah ku cuci dan ku jemur. Rambutku ku ikat membuat leher ku yang panjang terpajang.
"Ne sabar sedikit." Aku keluar dari kamar dan bertemu dengan Seunghyun yang juga sudah siap.
Ku akui Seunghyun lebih tampan saat siang hari. Uh, maksudku karena semalam terlalu gelap aku tidak bisa melihat nya dengan jelas, kali ini aku bisa melihatnya dengan lebih jelas, lebih jernih dan lebih spesifik dari ujung rambut sampai ujung kepala.
"Cepat bawa aku ke tempat motorku." Aku mendahului Seunghyun berjalan ke pintu luar dan menghirup udara pagi yang segar.
Seunghyun menyusulku dari belakang lalu mengeluarkan motornya keluar dari pagar rumahnya yang tinggi dan besar itu. Aku baru bisa melihat kalau pagar itu berwarna cokelat tua, kayu nya halus dan terlihat mahal.
"Cepat naik." Seunghyun menyalakan mesin motornya.
Aku naik ke atas motor Seunghyun dan kini aku sudah duduk tepat dibonceng olehnya. Seunghyun meng-gas motornya dan melaju dengan cepat, membabat habis jalanan yang di lalui nya, meninggalkan bekas garis lurus dijalanan tergesek roda motornya. Suara deru mesin motornya terdengar dari ujung jalan ke ujung jalan lainnya.
Aku bisa mencium harum yang keluar dari tubuh Seunghyun. Entah itu parfumnya, sabunnya atau memang dia memiliki harum natural yang seperti itu.
Aku melihat wajah Seunghyun yang tampan saat sedang ber-ekspresi serius dari kaca spion motornya.
Tampan juga. Gumamku dalam hati. Pipiku memerah saat Seunghyun melihat ku dari kaca spionnya, aku tertangkap basah saat sedang memperhatikan wajahnya.
"Kenapa melihatku?"
"Ani." Jawabku memalingkan pandanganku.
Tangan kanan Seunghyun masih memegang gas motornya sedangkan tangan kiri nya meraih tangan kiri ku dan melilitkan tanganku di pinggang nya. Tanganku tidak dilepas olehnya, tangan kiri nya terus memegang tangan kiriku.
Deg deg deg. Jantungku berdetak lebih cepat saat jarak antara aku dan Seunghyun sangat sangat sangat dekat.
"Ya.... Lepas tanganku."
"Wae? Kau grogi?"
"Mwo? Aku? Tidak!"
Aku melihat Seunghyun yang tertawa dari kaca spion.
"Kalau kau ingin kupeluk bilang saja jangan menahan tanganku begini." Aku menyindir Seunghyun, menekan nada bicaraku.
"M-Mwo?"
Aku menjawab pertanyaan Seunghyun dengan melingkarkan lengan kanan ku di pinggang Seunghyun juga. Posisi ku saat ini memeluk Seunghyun dari belakang, cukup romantis kalau dilihat-lihat. Mungkin orang yang tidak mengenal kami mengira kami berdua ini adalah sepasang kekasih.
"Y-Ya!" Seunghyun terkejut.
"Wae Seunghyun-ah?"
"A-Ani. Kita sudah sampai." Seunghyun menge-rem dan memberhentikan motornya. Aku melepas pelukanku dan turun dari motor Seunghyun.
Aku bisa melihat gerombolan anak-anak racer yang kemarin malam juga ada di arena balap kemarin. Aku melihat mereka satu per satu dan melihat Jiyong yang membawa motorku. Ia melambaikan tangannya padaku. Aku berlari menghampirinya, menghampiri motorku tepatnya.
"Noona. Motormu sudah ku perbaiki."
"Jinja? Aigo gomawo Jiyong-ah. Aku memang belum sempat pergi ke bengkel akhir-akhir ini. Gomawo. Aku traktir kau minum nanti?"
"Ya...." Aku sedikit terkejut melihat Seunghyun yang tiba-tiba sudah ada disebelahku.
"Jangan main lari saja dong." Lanjutnya.
Aku hanya memandang nya dengan tatapan 'iuh' ku. Memangnya aku anak kecil? Ocehku sendiri dalam hati.
"Seunghyun!!" Seorang wanita dengan pakaiannya yang cukup terbuka berlari dari jauh dan memeluk Seunghyun. Belum sempat Seunghyun memberikan reaksi, wanita itu mencium bibir Seunghyun tepat dihadapanku.
What the.... Gumamku gemas dalam hati. Rasanya aku benar-benar kesal melihat Seunghyun dicium oleh wanita itu.
"Ya... Wanita jalang..." Ucapku dengan suara ku yang sedikit berat, pelan, lembut tapi menusuk.
"Kau pikir kau siapa? Mencium Seunghyun dihadapanku? Hah?"
Wanita itu melepaskan ciumannya dan membalas tatapanku dengan tatapan yang lebih galak dari ku. Seakan-akan ia ingin menelanku hidup-hidup.
"Mwo? Siapa kau?" Wanita itu berbicara dengan suaranya yang sok imut. Menjijikan.
"Jangan bicara denganku dengan suara mu yang sok imut itu. Aku jijik mendengarnya." Jawabku ketus.
Jiyong dan Seunghyun melipat bibirnya menahan tawa mendengar aku mengata-ngatai wanita yang masih terus menatap ku dengan tatapan tajamnya.
"Memangnya kau siapa?! Seunghyun bukan milikmu kan?!"
"Aku tidak pernah bilang dia milikku kan? Aku hanya tidak suka kelakuan mu yang seperti...... Wanita murahan...." Ucapku sambil menggerakan bola mataku memandanginya dari bawah sampai ke atas.
Wanita itu kalah bicara denganku, ia mengangkat tangannya mengambil ancang-ancang ingin menaparku. Aku tidak berpaling atau berkedip sedikitpun, aku tidak takut dengan ancang-ancang nya itu. Tangannya diayunkan ke arah pipi kiriku, sayang Seunghyun masih lebih cepat darinya. Tangan Seunghyun yang besar menahan lengan wanita itu.
"Bom benar, kau seperti wanita murahan. Enyahlah." Seunghyun menatap wanita itu dengan tajam.
Wanita itu pergi meninggalkan Seunghyun dengan langkah kesalnya, aku juga dengan cepat naik ke motorku, memutar kunci yang masih menempel di motorku dan menyalakan mesinnya. Tanpa basa basi aku meng-gas motorku.
"Kau mau kemana?" Seunghyun berdiri di depan motorku, menghalangi jalanku.
"Bukan urusanmu. Minggir." Ucapku dingin membuang tatapanku dan berbalik arah, pergi dari tempat itu.
"YA!" Teriak Seunghyun memanggilku.
Aku melihat dari kaca spion ku Seunghyun mengejarku dengan motornya, ia membawa motornya dengan tidak kalah cepat denganku. Dalam beberapa detik ia mampu mengimbangi jarak antara motorku dengan motornya.
Aku terus meng-gas motorku dengan cepat sampai aku akhirnya menge-rem motorku di sebuah jembatan yang sepi.
"Jangan mengikutiku!" Aku membentaknya.
"Ya, kau kenapa? Tiba-tiba jadi marah begini?"
"Tidak apa."
"Jangan bilang kau cemburu karena aku dicium oleh wanita itu?" Seunghyun berjalan mendekatiku.
"Untuk apa aku cemburu? Aku ini siapa mu? Bodoh." Jawabku ketus.
"Kau? Kau wanitaku. Kau lupa?"
"Hanya berpura-pura Choi Seunghyun. Aku bukan wanitamu sungguhan."
Aku dan Seunghyun saling membuang muka sesaat dan suasana menjadi hening. Kenapa aku marah saat Seunghyun dicium tadi? Kenapa rasanya sangat kesal dan jengkel? Apa aku menyukainya? Ah mana mungkin!! Ucapku dalam hati.
"Fine." Seunghyun mengacak-acak rambutnya.
"Kalau begitu mulai sekarang kau jadi kekasihku. Sung-gu-han." Ia menekan nada bicaranya dan menarik wajahku ke dekat wajahnya.
Bibirnya mencium bibir ku, cukup lama... Jantungku terasa berdetak sangat cepat saat aku dicium oleh Seunghyun. Anehnya aku sama sekali tidak merasa ingin menolak ciuman itu. Aku menikmati ciuman Seunghyun itu. Sampai akhirnya Seunghyun melepas ciumannya dari ku.
"Arasso? Kau adalah kekasihku sungguhan mulai sekarang."
"Mwo?!"
to be continued~
to be continued~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar