AUTHOR: Jivon / @Gvonnn
CAST: Find it yourself :)
GENRE: Romance
RATING: G
CHAPTER 6
“Bagaimana perasaanmu?” Aku melepas ciumanku.
“M-M-M-Maksudmu?!”
“Kau deg-degan?”
“T-T-Tentu saja! Rasanya aku berhenti bernafas!” Jawabnya dengan gugup.
“Berarti kau menyukaiku.” Aku tertawa.
“M-M-Mana bisa kau mengambil kesimpulan semudah itu?!”
“Benarkah? Kalau begitu.” Aku bangun dan duduk disampingnya. “Kalau kau tidak menyukai ku, kau pasti tidak akan salah tingkah begitu.”
“Sekarang, coba kau cium aku.” Aku mendekatkan wajah ku ke wajah Chaerin.
“Aigo! A-A-Aku tidak menyukaimu!”
“Aku menunggu…” Aku memejamkan mataku.
3menit… 5menit… 8menit… 10menit… Aku menunggu jawaban dari Chaerin, aku mulai khawatir sendiri kalau dia benar-benar tidak menyukai ku. Aku membuka sebelah mataku pelan-pelan dan…
CHUUU~
Sebuah kecupan ringan diberikan Chaerin di bibirku. Senyuman yang tidak tau kenapa muncul tiba-tiba menghiasi wajahku. Sulit rasanya untuk menghilangkan senyum ku itu.
“Well…. Kau menyukai ku kan hah?”
“Tidak tau.” Chaerin yang masih malu-malu membelakangiku.
“Aaaa~ Kau menyukai ku kan?” Aku menggodanya.
“Ne a-a-aku menyukaimu. L-L-Lalu kenapa?”
“Kalau begitu sekarang kita sepasang kekasih dong?” Aku mendekatinya.
“M-Mwo? Kenapa begitu?!”
“Karena…” Aku memeluk Chaerin dari belakang, “Kau menyukai ku dan aku menyukai mu.”
“SATU LAGI! Kau! Tidak boleh deka-dekat dengan Seungri. Arasso?!” Lanjutku.
“Hishhhh. A-Aku mau tidur!” Chaerin yang masih malu-malu menyembunyikan wajahnya tidak berani melihatku.
Untuk pertama kali nya saat itu juga, aku bisa merasakan apa itu ‘menyukai’ seorang wanita. Mungkin lama kelamaan perasaan ku akan berubah menjadi rasa sayang, cinta?
Cittt Cittt Cittt
Sudah semalaman aku terkurung di gedung tua itu dengan Chaerin. Begitu aku bangun aku bisa melihat seluruh isi gudang itu karena cahaya matahari yang masuk lewat jendela.
Aku melihat Chaerin yang masih asik tidur. Tidak tega membangunkannya, aku mencari jalan keluar sendiri dan membiarkannya tidur sebentar lagi.
Aku mencoba membuka pintu yang macet lagi, tetap tidak bisa dibuka. Aku melihat-lihat ke sekeliling gudang itu, BINGO! Sebuah jendela yang tidak terlalu tinggi dan cukup besar menjadi sasaranku.
“Chaerin, Chaerin-ah!” Aku membangunkan Chaerin.
“Hm…..” Chaerin bangun dengan mata yang masih setengah tertutup.
“Bangun, kita keluar lewat jendela.”
“MWO?!” Mata nya terbuka lebar saat aku mengucapkan kata ‘jendela’.
“Aigo aku ini perempuan mana bisa manjat jendela?”
“Heisss ada aku, Kwon Jiyong. Ini, aku pinjam ini ya?” Aku mengambil syal Chaerin.
Chaerin belum menjawab, aku sudah melilitkan syal itu di tanganku. Kotak-kota tua yang tidak terpakai ku susun, aku memanjat kotak-kota itu sampai aku bisa meraih jendela sasaranku.
PRAANGG!!
Aku memukul jendela itu sekuat tenaga sampai pecah, pecahan kaca berserakan dimana-mana.
“Chaerin-ah, sini!”
Chaerin yang masih setengah menghampiri ku.
“Naik kesini.”
“Hah? Kau gila ya? Aku tidak mau!”
“Tidak mau yasudah aku keluar sendiri.”
“Y-Y-Ya! Arasso arasso!” Chaerin memanyunkan bibirnya lalu mulai naik menyusulku yang sudah ada diatas.
“Eh!” Chaerin tersandung dan hampir terjatuh kebawah. Aku meraih pinggangnya dengan lenganku, menariknya ke pelukanku.
“Hati-hati sedikit pabo.” Aku tersenyum saat memeluknya.
“M-M-Mian…” Jawabnya malu-malu tidak berani menatap wajahku.
“Kau tunggu disini, aku turun dulu. Baru kau turun, arasso?” Aku mengelus kepalanya lalu melompat keluar jendela yang tidak terlalu tinggi itu.
Lega rasanya aku bisa menghirup udara segar lagi setelah semalaman terkurung di gudang tua itu. Aku merenggangkan pinggang ku bernafas lega.
“Heloooo, Kwon Jiyong. Jangan lupa aku masih disini!”
“HO iya aku lupa hahaha. Sini, loncat!”
“MWO?! Kau benar-benar sudah gila ya?!”
“Aku akan menangkapmu. Mau turun tidak? Tidak yasudah.”
“I-I-Iya iya!” Chaerin melempar tas nya kebawah terlebih dahulu. Aku mengambil ancang-ancang ingin menangkap Chaerin yang sudah siap-siap untuk melompat.
BRUKKK!
Chaerin jatuh tepat di lenganku. Aku memegangnya di tanganku seperti pangeran di dunia dongeng.
“T-Turunkan aku!”
“Hey, kau lelah tidak?” Tanyaku menurunkannya.
“Tentu saja aku lelah. Tulangku rasanya sudah mau remuk.” Chaerin mengambil tas miliknya.
“Hm. Naik.” Aku berjongkok dan menarik lengan Chaerin melingkari leherku. Aku menggendongnya di punggungku. Lagi.
“Heiss aku masih bisa jalan, aku bukan anak kecil…!”
“Tapi kau anak kecil bagiku.” Aku tertawa pelan.
“Heiss kau ini benar-benar. Kwon Jiyong orang yang sangat suka mengejek orang.”
“Aku? Kwon Jiyong yang suka mengejek pa-car-ku. Ralat itu!” Aku tertawa sambil berjalan menggendong Chaerin pulang ke rumah Chaerin.
Seungri POV
ERGHH! Rasanya aku ingin menelan Kwon Jiyong itu hidup-hidup tiap aku ingat kalau Chaerin sedang hilang berduaan dengannya.
Sudah tidak pulang semalaman, sampai hari ini juga masih tidak ada kabar. HP Chaerin dan Jiyong tidak bisa dihubungi. Keterlaluan.
“Apa sudah ada kabar dari Chaerin?” Seunghyun hyung yang masih panik adiknya hilang mondar-mandir hampir berjam-jam.
“Belum.” Aku menggelengkan kepalaku.
“Aku pulang~” Aku mendengar suara Chaerin.
Aku melihat Chaerin yang sedang digendong oleh Jiyong. Rasa kesal ku semakin meldak-ledak. Rasanya benar-benar ku telan hidup-hidup tuan muda Kwon Jiyong itu.
“Kau kemana saja?! Aku mengkhawatirkanmu tau!”
“Mian oppa, nanti saja diatas ku ceritakan.” Chaerin berkata pada Seunghyun.
“Ya, Kwon Jiyong, mau sampai kapan kau menggendongku? Turunkan aku.” Chaerin menjitak kepala Jiyong.
“Sampai pa-car-ku bilang kalau dia menyukaiku.” Jiyong menekan nada bicaranya dan melirik ke arahku.
“M-Mwo?! P-Pacar?!” Aku terkejut.
“Ne… Aku dan Chaerin pa-ca-ran.” Jiyong menyipitkan matanya mengejekku.
“Heisss sudah-sudah turunkan aku!” Chaerin melompat turun dari punggung Jiyong.
“Kau istirahat sana, aku juga mau istirahat.”
“Heisss.” Jiyong menarik lengan Chaerin dan mencium keningnya tepat dihadapan mataku. Benar-benar-.-
“Aigo! Sana pulang pulang pulang!” Chaerin mendorong-dorong Jiyong ke rumah sebelah sambil tertawa-tawa.
Rahang bawahku rasanya susah ditutup mendengar dan melihat Chaerin dan Jiyong berpacaran didepanku. Kalau aku seorang monster benar-benar aku akan menelan Jiyong, Kwon Jiyong itu bulat-bulat.
“Seungri-ah, kenapa pagi-pagi kau sudah ada disini?” Tanya Chaerin.
“A-Ah, aku? Oh, itu… a-“
“Seungri semalaman disini menunggu mu.”
HOO Seunghyun hyung membantu ku menjawab pertanyaan Chaerin, benar-benar lega.
Chaerin membulatkan bibirnya, mengangguk lalu tersenyum padaku.
Chaerin membulatkan bibirnya, mengangguk lalu tersenyum padaku.
“Aku tidak apa-apa. Kau pulang dan istirahatlah.” Chaerin meninggalkanku dan naik ke atas.
Aku juga berpamitan dan berjalan pulang dengan rasa kecewa, kesal, sedih, gemas, semua campur aduk. Gigi ku rasanya gatal ingin menggigit Kwon Jiyong itu. Bilang tidak suka sekarang malah berpacaran dengan gadis yang ku suka. Apa mau mu?!@#$%
Chaerin POV
“Segarrrr….!” Aku mengacak-acak rambutku yang basah dengan handuk. Sebuah senyuman lebar tiba-tiba terpampang di wajahku, aku tidak tau apa yang lucu. Tapi mengingat kejadian semalam dengan Jiyong aku rasanya ingin melompat-lompat.
Aku berdiri di depan cermin, pantulan diriku terlihat sangat jelas di cermin itu. Aku meraba bibirku yang kemarin dicium oleh Jiyong.
“Benar-benar…. First kiss ku diambil oleh orang bodoh macam kau.” Gumamku.
Selimut salju mulai menumpuk semakin tebal di jalanan luar, aku bisa melihatnya dari dalam kamarku. Aku duduk di bingkai jendela yang tertutup rapat. Pikiranku masih terbayang-bayang dengan kejadian di gudang tua itu bersama Kwon Jiyong yang sampai sekarang aku sendiri belum bisa percaya kalau dia pacarku.
Entah apa aku benar-benar suka padanya atau tidak. Aku rasa aku akan mencari tau perasaanku seiring berjalannya waktu yang akan ku nikmati bersamanya.
“Chaerin-ah.” Seunghyun oppa mengintip ke dalam kamarku.
“Oppa? Kemarilah.” Aku mengajaknya duduk di bingkai jendela.
“Chaerin-ah, kau benar-benar pacaran dengan Jiyong?” Seunghyun oppa membantuku mengeringkan rambutku.
“Hm hm.” Aku menganggukan kepalaku, “Wae?”
“Kau menyukai nya?”
“Tentu saja aku menyukai nya oppa. Hm, kau setuju dengan hubunganku tidak?” Kata ku sambil bergantian memijit punggung Seunghyun oppa.
“Sebenarnya….. Menurutku Seungri lebih punya nilai lebih daripada Jiyong.”
“Hm, benarkah?”
“Ne… Tapi kalau kau memang menyukai nya tentu saja aku menyetujui hubungan kalian.”
“Heiss, kau ini….! Hm, bagaimana keadaan eomma? Pasti syok karena aku tidak pulang semalaman ya?”
“Tidak. Aku bilang kau nginap di rumah teman mu. Aku takut kalau eomma syok jatuh pingsan lagi.”
“Oh…” Aku menganggukan kepalaku.
“Kau mau bantu-bantu dibawah? Aku mau turun bantu Daesung.” Seunghyun oppa terenyum padaku lalu keluar dari kamarku.
Seperti se-ekor tupai aku melompat dari posisi duduk ku ingin berjalan kebawah membantu Daesung dan Seunghyun oppa.
KRINGG KRINGG
HP ku yang berbunyi nyaring seperti berteriak menghalangiku kelaur dari kamar. Aku kembali ke dalam kamarku mengangkat telpon yang ternyata dari si tuan muda Kwon Jiyong.
“Yeoboseyo tuan muda?” Aku mengangkat telponku sambil tertawa.
“Tuan muda? Oh ya aku memang tuan muda.” Jawabnya juga sambil tertawa.
“Wae menelponku?”
“Kau sedang sibuk?”
“Sibuk? Hm… Ne aku sangat-sangat sibuk tapi diganggu oleh telpon dari tuan muda Kwon Jiyong.”
“Heiss aku serius.”
“Ne aku sibuk mau membantu Daesung dan Seunghyun oppa. Mau membantuku?”
“Aku sudah ada dibawah. Cepat turun.”
KLEKK! Tidak memberi ku kesempatan menjawab satu kata pun, telpon ku sudah dimatikan oleh nya. Heisss.
to be continued ~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar