AUTHOR: Jivon / @KWONLADY_
CAST: Find it yourself :)
GENRE: Romance
RATING: G
CHAPTER 17
Still Chaerin’s POV
Satu kata bisikan terakhir yang terdengar di telingaku sesaat sebelum Jiyong pingsan membuat ku semakin takut dengan keadaan Jiyong.
”C-Chaerin….”
Setelah itu Jiyong pingsan di pundakku. Wajahnya masih terlihat pucat akibat menahan sakit tadi.
Aku memapah Jiyong masuk ke dalam mobil. Masih bingung harus membawa nya kemana. Setelah berpikir cukup lama aku memutuskan membawa Jiyong pulang ke rumah.
Pulang membawa seorang Jiyong yang di-isu-kan meninggal tentu saja membuat Hong-ki kaget… Pastinya.
“Aigo! I-Itu Jiyong?!”
“Ne. Cepat bantu aku jangan diam saja oppa.” Aku memapah Jiyong.
Hong-ki membantu ku dan menidurkannya di sofa. Aku mengambil selimut dari kamarku dan menyelimuti Jiyong. Menyelipkan sebuah bantal empuk di bawah kepalanya.
Aku mengelus pipi nya pelan menyibakkan poni nya yang menutupi matanya yang sipit.
“Chaerin-ah. Kenapa tidak kau antar kerumahnya?”
“Ani. Aku takut tidak ada yang menjaganya disana. Dia hanya sendirian dirumah, hanya bersama pelayannya. Aku tidak yakin mereka bisa menjaga Jiyong.”
“Tapi kalau kau bawa dia kemari, seisi rumah mereka akan tau kalau dia tidak pulang semalaman.”
“Ne. Aku sudah memikirkan resikonya sebelum aku bawa Jiyong kesini.”
“Kau bisa saja di-“
“Dipukul, dicaci maki, ditampar, bahkan dibunuh sekalipun aku sudah siap. Aku hanya ingin merawat Jiyong sekarang.”
Aku terus menjawab Hong-ki tanpa memalingkan pandangan ku dari wajah Jiyong. Hong-ki menghela nafasnya.
“Kau mau tidur di ruang tamu hari ini?”
Aku menganggukan kepalaku. Hong-ki masuk ke dalam kamar ku dan keluar membawa barang-barang ku ditangannya.
“Pakai jaket mu, pakai selimut juga. Jangan sampai kau kedinginan. Aku buatkan kau cokelat panas mau?”
“Ani oppa. Ini sudah cukup. Gomawo. Kau istirahatlah.”
Hong-ki tersenyum padaku, melihat ke arah Jiyong sejenak lalu masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan ku berdua dengan Jiyong.
“Jiyong-ah. Apa aku benar mendengar kau menyebut nama ku tadi?”
Aku terus memperhatikan wajah Jiyong sampai aku ikut tertidur didekat sofa tempat Jiyong tidur.
***
DRRTTT DRRTTT!
“Hm. Yuhbasaeyo?”
“Chaerin-ah kau dimana? Hari ini tidak latihan?”
“Oh, Youngbae oppa. Mianhe, hari ini aku tidak enak badan. Aku ijin sehari apa tidak apa?”
“Oh. Gwenchana. Istirahatlah, sampai jumpa besok.”
“Hm. Gomawo.”
Aku merenggangkan punggungku yang semalaman ditekuk karena tertidur dalam posisi duduk menyender di sofa.
“Hm?!” Aku melihat sofa tempat Jiyong tidur kemarin sudah kosong.
Aku yang panik mencari nya ke sekitar rumah, tidak juga kutemukan. Aku membuka pintu teras dan menemukan Jiyong yang sedang duduk di teras belakang.
“Jiyong-ah. Sedang apa disini?” Aku duduk disebelah Jiyong. Wajahnya masih terlihat pucat.
“Aneh. Kemarin kepala ku sakit sekali. Seperti ada yang menyetrum ku. Sampai sekarang juga masih terasa sakit.”
“Jinja? Mau ku ambilkan obat?”
“Ani. Tidak usah.”
Aku dan Jiyong kembali terdiam beberapa saat.
“Jiyong-ah.” Aku memanggilnya.
“Hm?”
“Kemarin kau teringat apa? Seperti nya kau takut sekali?”
Jiyong mencoba mengingat-ngingat kejadian semalam.
“Ah itu mengerikan sekali. Aku seperti mendengar suara tabrakan yang menggelegar. BAM! Aku mendengar suara-suara yang memaggilku. Juga aku mengingat seseorang yang tergeletak jauh dariku. Kalau tidak salah aku mengingat namanya……….”
DEG DEG DEG. Jantungku mulai kembali berdetak cepat menunggu kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut Jiyong.
“Chaerin.”
DEG! Hentakan keras terasa di jantungku setelah Jiyong mengucapkan namaku. Apa dia masih belum bisa mengingat ku? Sampai kapan aku harus terus begini?
“Chaerin Chaerin Chaerin. Aku sangat menyukai nama itu. Aku baru mendengar nama Chaerin itu tapi rasanya sudah tidak asing bagiku. Sedangkan Sandara, terdengar sangat asing untukku.”
“Hm..” Aku tertawa pelan.
“Kau mau pulang sekarang?”
“Hm! Gaho pasti sudah merindukan appa nya ini.” Jiyong mengangguk-anggukan kepalanya.
Aku kembali meminjam mobil milik Hong-ki dan mengantar Jiyong pulang ke rumahnya.
“CL, temani aku minum kopi panas dulu didalam. Ayo!” Jiyong menarik tangan ku masuk ke dalam villa nya yang megah itu.
Aku hanya mengikuti Jiyong dari belakang dengan perasaan yang sedikit tidak tenang, takut kalau appa nya atau Sandara datang tiba-tiba.
Jiyong membawa se-teko air panas yang sudah mendidih ke meja ruang tengah. Hendak membuat kopi panas untukku.
BRAKK!
Pintu tiba-tiba terbanting dan terbuka lebar. Rasanya aku ingin pingsan melihat appa Jiyong dan Sandara yang berada di ambang pintu.
“KWON JIYONG! Semalaman kau tidak pulang apa yang kau lakukan?! Kau! Sedang apa kau disini?!!”
“W-Wae? Kau kaget? Kaget karena aku tau kalau Jiyong masih hidup?!” Aku memberanikan diri ku.
“Wanita tidak tau diri! Kau tau Kwon Jiyong itu tunangan Sandara kan?! Yang dicintai Jiyong itu Sandara bukan kau!”
“Hah! Kau tau apa tentang perasaan anakmu sendiri?! Kau tidak tau apa-apa!”
“Appa….!” Jiyong menyela aku dan appa nya yang sedang berkelahi.
“Aku tidak menyukai Sandara. Justru aku lebih merasa nyaman saat bersama CL.”
“Mwo? CL? Chaerin kau memalsukan namamu?!” Sandara membentakku.
“Mwo? Chaerin? Jadi.. Nama yang terpikir olehku itu nama mu?” Jiyong melihatku dengan wajah bingungnya.
“KaKAU MASIH BERANI BERHUBUNGAN DENGAN GADIS INI?!”
PLAKKK! Appa Jiyong menampar Jiyong dengan sangat keras membuat Jiyong terjatuh ke lantai.
“BIAR KAU TAU RASA ANAK TIDAK TAU DIRI INI!” Appa Jiyong mengambil teko yang berisi air panas hendak menumpahkannya ke atas kepala Jiyong.
Aku reflek berlari memeluk Jiyong sehingga yang terkena air panas itu punggungku.
“Ajeossi! Jangan begitu!” Sandara berusaha menenangkan appa Jiyong.
“BIAR SAJA SANDARA! ANAK INI MEMANG SUKA MEMBANTAH OMONGAN APPA NYA SENDIRI!”
“Bukan keras kepala tapi kau yang tidak pernah menyayangi Jiyong! KAU YANG SALAH!” Aku membentak appa Jiyong sambil terus memeluk Jiyong.
“K-KAU! KAU BERANI MEMBENTAKKU?!”
Appa Jiyong terus melemparkan cacian, makian, dan memukulku. Aku tidak melepas pelukan ku, aku terus memukul Jiyong, melindungi nya dari appa nya yang seperti kerasukan setan itu.
“C-CL, ke-kenapa melindungiku?” Aku melihat Jiyong yang sudah berkaca-kaca.
“Ani tidak apa Jiyong-ah. Aku hanya ingin melindungi mu. Seperti kau yang ingin melindungiku.” Aku menahan sakit dipunggungku.
“Ajeossi! BERHENTI!” Aku mendengar Sandara yang berusaha menenangkan appa Jiyong tapi tidak didengarkan.
“C-CL…! Argh!” Lagi-lagi Jiyong memegang kepalanya menahan sakit dikepalanya.
“Y-Ya! Jiyong! Kau kenapa? Ya!”
“K-Kepalaku sakit! Argh!” Jiyong mengerang kesakitan.
“Chaerin!!!!!!!” Jiyong berteriak memanggil nama ku. Aku dibuat sangat terkejut sampai tidak bisa merasakan sakit yang menyerang ku lagi.
Jiyong yang masih mengerang kesakitan terlihat jelas di hadapan mataku. Membuatku semakin panik tiap mendengar erangannya.
“Jiyong! Kwon Jiyong! Kwon Jiyong!”
“C-Chaerin! Chaerin! Chaerin!!!!!!!” Urat-urat tangan Jiyong terlihat tegang dan sekujur tubuhnya kaku menahan sakit.
“Aku disini Jiyong! Aku disini! Kwon Jiyong! Jangan buat aku takut!” Aku menggenggam tangan Jiyong, tidak melonggarkan pelukanku sedikitpun.
“Chaerin minggir!!” Jiyong menyebut nama ku untuk ke sekian kalinya.
“Chaerin! Chaerin!” Jiyong membalas pelukanku lebih erat dari pelukanku. Menangis di pundakku sampai terisak-isak.
“Chaerin aku kira aku sudah kehilanganmu! Chaerin!” Tangisan Jiyong semakin menjadi-jadi.
Apa Jiyong sudah mengingatku? Gumamku pedih dalam hati. Masih belum percaya kalau Jiyong sudah mengingatku? Apa ini mimpi? Kalau ini memang mimpi jangan pernah bangunkan aku. Biar aku tidur selamanya.
“Jiyong, k-kau sudah mengingatku?”
“Aku mana pernah melupakanmu!” Jiyong masih menangis dipelukanku.
“KWON JIYONG! USIR WANITA INI ATAU KAU KU USIR SELAMANYA DARI KELUARGA KWON!”
Aku memalingkan wajahku ke hadapan appa Jiyong saat aku melihat appa Jiyong mengangkat sebuah vas bunga ditangannya hendak memukul Jiyong.
Dengan sigap aku meraih kepala Jiyong dan memeluknya erat-erat. Hingga vas itu memukul keras kepalaku, pecahan beling berserakan kemana-mana.
Cairan merah keluar mewarnai wajahku, pandanganku semakin kabur, roh ku rasanya seperti melayang. Aku merasakan tubuhku yang tergeletak di lantai. Perih di kepalaku masih bisa kurasakan.
Suara Jiyong bergeming di telingaku.
”Chaerin! Chaerin! Chaerin!!”
Airmataku jatuh dari mataku bercampur dengan darah yang keluar dari luka dikepalaku. Mataku sudah gelap tapi telingaku masih bisa mendengar suara Jiyong sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap dan hening.
to be continued~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar